Kisah Amoroso Katamsi Perwira TNI yang Jadi Sosok Soeharto di Film G30S/PKI

Oleh : kormen barus | Kamis, 01 Oktober 2020 - 17:39 WIB · 6 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta – Biodata Amoroso Katamsi sempat jadi sorotan setelah ia sukses memerankan karakter Soeharto dalam film G30S/PKI garapan Arifin C. Noer. Film G30S/PKI menjadi salah satu film bersejarah Indonesia yang menceritakan keganasan PKI melakukan pembantaian kepada sejumlah Dewan Jendral Tanah Air.

Berikut biodata Amoroso Katamsi, pemeran Soeharto dalam film Pengkhianatan G30S/PKI, yang dikutip industry.co.id dari tribunbatam.

Amoroso Katamsi lahir di Batavia (Hindia Belanda) pada 21 Oktober 1938 dan meninggal di Jakarta pada 17 April 2018.

Amoroso Katamsi dikenal lewat film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI yang dibuat pada tahun 1982 yang disutradarai oleh Arifin C. Noer dan melalui film Djakarta 1966.

Ia juga pernah menjadi ketua PARFI.

Amoroso Katamsi adalah suami dari penyanyi seriosa Indonesia, Pranawengrum Katamsi serta ayah dari Aning Katamsi yang juga penyanyi seriosa, dan Doddy Katamsi, vokalis band rock Elpamas.

Amoroso menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa, 17 April 2018 pukul 01.40 WIB di RSAL Dr. Mintohardjo, Jakarta.

Biografi

Amoroso lahir di Batavia, Hindia Belanda pada 21 Oktober 1938.

Ia pindah ke Magelang saat berusia empat tahun.

Ayahnya gemar bermain biola, bisa jadi inilah yang membentuk dasar berkesenian di kemudian hari.

Masa kecil hingga remaja, dihabiskan dengan menari, bersandiwara dan menyanyi.

Sahabatnya, Kris Biantoro mengajaknya bermain band, dan ia menjadi vokalisnya.

Saat ia masih duduk di bangku SMP, neneknya meninggal akibat operasi yang dilakukan gagal. Ia terpukul, lalu ia bertekad menjadi dokter.

Selepas lulus SMA, ia ke Yogyakarta untuk melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Di Yogyakarta, ia sering ikut sandiwara radio RRI Yogyakarta. Sembari kuliah, ia tak meninggalkan kegemarannya berdeklamasi.

Dalam sebuah lomba deklamasi dimana W.S. Rendra menjadi jurinya, Rendra tertarik dengan penampilannya dan mengajaknya bermain drama bersama kelompok Studi Drama Jogja, dan di grup inilah ia bertemu dengan Arifin C. Noer.

Amoroso bertemu dengan Pranawengrum, penyanyi seriosa yang kelak menjadi istrinya, dalam sebuah perjalanan kereta api dari Banyuwangi, Jawa Timur menuju acara Pekan Kesenian Mahasiswa di Denpasar, Bali.

Mereka menikah pada tahun kelima kuliahnya, ketika ia bergelar doktorandus, padahal masih diperlukan dua tahun lagi ia meraih gelar dokter.

Pernikahan mereka dipercepat karena calon ibu mertuanya meninggal.

Tiga bulan setelah pernikahan, ia melayangkan permohonan beasiswa ke berbagai instansi.

Angkatan Laut Republik Indonesia memberikan jawaban pertama, maka diterima dan diangkatlah ia menjadi perwira berpangkat Letnan, statusnya perwira tugas belajar hingga lulus sebagai dokter.

Sempat menjadi dokter di Cilacap, Jawa Tengah, setelah menetap di Jakarta, ia bertemu lagi dengan Arifin C. Noer.

Karena aktif di atas panggung teater bersama kelompok Teater Kecil pimpinan Arifin C. Noer dan tampil di layar lebar sejak bemain dalam film Menanti Kelahiran (1976), ia dikenal secara luas sebagai seorang perwira militer yang aktif berteater.

Saat Arifin C. Noer membuat film Pengkhianatan G30S/PKI, ia pun ikut terjun dan memerankan tokoh Soeharto.

Dalam mempersiapkan diri, ia yang waktu itu berpangkat Letnan Kolonel, berkesempatan sehari bersama Soeharto di peternakan Tapos, Bogor, Jawa Barat.

Observasi dilakukan sedetail mungkin agar bisa memerankan Soeharto sebaik-baiknya.

Dua kali masuk nominasi FFI, sebagai aktor utama dalam Serangan Fajar (1981) pada Festival Film Indonesia 1982, dan sebagai aktor utama dalam Pengkhianatan G30S/PKI (1983) pada Festival Film Indonesia 1984.

Amoroso diangkat menjadi direktur Perusahaan Film Negara pada tahun 1990 oleh Presiden Soeharto. Jabatan tersebut diembannya selama delapan tahun dengan kerja keras dan tegas untuk menyehatkan perusahaan.

Ayah dari Ratna, Doddy dan Aning yang semuanya terjun ke dunia musik ini, pernah menjadi Sekretaris Dewan Juri Film Cerita pada Festival Film Indonesia 1990 sampai dengan tahun Festival Film Indonesia 1992, serta Ketua Dewan Juri Sinetron Cerita pada Festival Sinetron Indonesia 1995. Ia juga ikut bermain dalam sinetron Ageng (1997).

Pensiun dari Angkatan Laut dengan pangkat terakhir Laksamana Pertama, ia tidak pernah kehilangan kesibukan.

Di ranah pendidikan, ia dipercaya menjadi Pembantu Rektor Institut Kesenian Jakarta dan Universitas Islam As-Syafiiyah. Di ranah kedokteran ia ditunjuk sebuah rumah sakit di Cilacap, Jawa Tengah, dan membuat grup teater yang latihannya Subuh karena malam hari buka praktek dokter.

Sempat menjadi pengurus teras Gerakan Kwartir Nasional Pramuka.

Ia merasa kehilangan kesibukan setalah tugasnya di ke-Pramuka-an berakhir. Waktunya diisi dengan sesekali syuting sinetron dan seminggu sekali mengajar di Program Studi Teater, Fakultas Seni Pertunjukan – Institut Kesenian Jakarta.

Melansir dari artikel Intisari Online yang berjudul "Perankan Sosok Soeharto dalam Film G30S/PKI, Begini Perjuangan Hidup Amoroso Katamsi", Amoroso Katamsi yang didapuk sebagai pemeran Panglima Kostrad Mayjen TNI Soeharto dalam film tersebut  telah mengembuskan napas terakhir pada Selasa (17/4/2018).

Anak Amoroso, Aning Katamsi menjelaskan bahwa sebelum meninggal dunia, ayahandanya sudah masuk Rumah Sakit AL Mintoharjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat sejak Jumat (13/4/2018) malam.

"Sejak Jumat sampai semalam meninggal dunia kondisinya terus menurun," kata Aning Katamsi, seperti dikutip dalam Warta Kota.

Aning menambahkan, sebelum kembali masuk rumah sakit, aktor pemeran sosok Soeharto di film Pemberantasan Pengkhianatan G 30 S PKI itu sempat jatuh dari kamar mandi Januari 2018 lalu.

"Cuma pemicu menurun kondisinya itu pas awal Januari sempat jatuh, tangannya patah. Sejak saat itu entah knp semuanya menurun. Terus Jumat malam kesadarannya sudah menurun sekali," tambahnya.

Selain patah tulang di bagian tangan, sebelumnya Amoroso Katamsi memang memiliki riwayat pengakit diabetes dan ginjal.

"Keluhannya sih enggak ada yang spesifik karena penyakitnya kan sudah lama. Ada diabet dan ginjal," ucapnya.

Lanjut Aning, ayahandanya meninggal begitu cepat tanpa memberikan pesan terakhir atau semacamnya, sebagai tanda bahwa Amoroso ingin pergi meninggalkan keluarganya.

"Enggak ada yang spesifik, kita yang penting tetap mendampingi aja. Cuma enggak ada pesan-pesan khusus. enggak ada," ungkapnya.

Aning berharap ayahandanya bisa tenang dan diterima di sisi Tuhan YME.

"Semoga bapak dilapangkan hatinya untuk menerima cahaya dr Allah, menuju jalan terang menuju ke Allah," ujar Aning Katamsi.

Film:

- Cinta Abadi (1976) dibintangi oleh Erna Santoso

- Menanti Kelahiran (1976) dibintangi oleh Vonny Pawaka

- Cinta Putih (1977) dibintangi oleh Yati Octavia

- Terminal Cinta (1977) dibintangi oleh W.S. Rendra

- Serangan Fajar (1981)

- Djakarta 1966 (1982)

- Pasukan Berani Mati (1982)

- Perkawinan 83 (1982)

- Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984)

- Bila Saatnya Tiba (1985)

- Bisikan Setan (1985)

- Pergaulan (1994)

- Dibalik 98 (2015)

Sinetron:

- Si Doel Anak Sekolahan (1997)

- Hidayah (2005)

- Di Atas Sajadah Cinta (2006)

- Hingga Akhir Waktu (2008)

- Anak Durhaka (2015)

- Tukang Bubur Naik Haji (2013)

- Orang-Orang Kampung Duku (2017)

- Tuhan Beri Kami Cinta (2017)

(Sumber: batam.tribunnews.com).

 

Kormen Barus

Pimpinan Redaksi

Kormen Barus adalah seorang jurnalis dan editor senior yang saat ini dikenal sebagai Pimpinan Redaksi di media portal berita nasional ⁠Industry.co.id. Ia juga memiliki rekam jejak sebagai jurnalis untuk portal Infomoneter dan Redaktur Pelaksana di Majalah Business Review. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia adalah penulis yang telah menerbitkan karya di bidang lingkungan, seperti buku yang berjudul "Desa Mandiri Menuju Langit Biru di Bumi Khatulistiwa

Lihat semua artikel →