Hutama Karya Dipercaya Garap Proyek Plant 2X1000 Megawat Ramah Lingkungan

Oleh : Herry Barus | Senin, 17 Agustus 2020 - 10:00 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta–Sebagai   Badan   Usaha   Milik   Negara   (BUMN)   yang   diberi   mandat mengembangkan mega proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), PT Hutama Karya (Persero) (Hutama  Karya)  juga  memiliki  portofolio  di  bidang  konstruksi  lainnya.  Proyek Engineering Procurement and Construction (EPC) telah lama menjadi salah satu kecakapan Hutama Karya dalam industri jasa konstruksi.

Hingga akhir tahun 2019 lalu, paling tidak ada 14 proyek EPC yang sukses digarap Hutama Karya di seluruh Indonesia. Seperti  halnya  megaproyek JTTS yang  merupakan  pembangunan  koridor  ekonomi,  proyek-proyek  EPC  pun menjadi salah  satu  bentuk  kontribusi  Hutama  Karya  untuk  menciptakan koridor energi nasional. Sejalan dengan realisasi Proyek Strategis Nasional (PSN) Pembangkit 35.000  MW,  proyek-proyek  EPC  Hutama  Karya  hadir  menjawab  tantangan  swasembada energi  nasional.

Khusus  untuk  proyek-proyek  EPC,  kualitas  pekerjaan  Hutama  Karya telah diakui dimana  perusahaan  pernah  mendapatkan  apresiasi  sebagai Best  Vendor  for  Local ContractorEPC Workstahun 2019 lalu oleh Indonesia Power sebagaiownerbeberapa proyek EPC yang digarap Hutama Karya.Kini,Hutama   Karya   bersama   Doosan   Heavy   Industry   dipercaya   mengerjakan   proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap  (PLTU)Suralaya  dengan  kapasitas  2  x  1000  MW. 

PLTU Suralaya merupakan salah satu proyek pembangkit strategis dengan kapasitas paling besar di Indonesia.  Konsorsium  Hutama  Karya akan mengerjakan  pengembangan  proyek  PLTU Suralaya  untuk  pembangkit  Jawa  9  dan  10  yang  merupakan Coal  Fired  Steam  Power  Plant dengan teknologi Ultra Super Critical (USC) terbaru dan paling efisien.“Portofolio Hutama Karya di bidang energi khususunya EPC tersebar mulai dari proyek PLTU Kendari,  Ampana,  Harjosari,  Lambur,  dan  suksesnya  PLTGU  Gratidi  Pasuruan  pada  tahun 2019  lalu.  PLTU  Suralayasendiri,selain akan mengadopsi  teknologi  terbaru,  juga akan dikombinasikan dengan aspek ramah lingkungan dengan pengamanan dan proteksi optimal,” ungkap Novias Nurendra, Direktur Operasi II Hutama Karya.

PLTU Suralaya sendiri hinggasaat  ini  adalah  pemasok  18%  kebutuhan  listrik  dari  Jawa  dan  Bali  yang  mencapai  26.000 Megawatt.

Sejalan  dengan  semangat  untuk  terus  berinovasi  dan  proaktif  terhadap  perubahan  dan perkembangan  teknologi,  Hutama  Karya  yakin  bahwa  menjadi  adaptif  merupakan  strategi terbaik  dalam  mengerjakan  proyek  berskala  besar.  PLTU  Suralaya  menjadi  contoh  proyek besar yang akan digarap dengan menggunakanteknologi terbaru.

“Teknologi USC ini nantinya akan membuat proses produksi energi yang bersumber dari batubara menjadi lebih efisien dan ramah  lingkungan.  Dalam industri pembangkit  listrik  khususnya  tenaga  batubara,  ini  adalah teknologi terbaik,” tambah Novias.

Pembangkit  listrikberbahan  bakar  batubara  merupakan  sumber  energi  yang  sampai  saat  ini paling  dominan  yang  ada  di  dunia,  termasuk  Indonesia. Teknologi  USC  kini  mulai  menjadi standar    baru    pengembangan    pembangkit    listrik    di    banyak    negara.   

Teknologi    ini menggabungkan teknologi terbaik yang ada saat ini sehingga distribusi panas yang dihasilkan menjadi lebih efisien, konsumsi batubara lebih rendah, agar mampu menurunkan level emisi sehingga   menjadi   lebih   ramah   lingkungan.

“Persiapan   pengerjaan   sudah   dimulai   dan konsorsium Hutama Karya siap menggarap proyek PLTU Suralaya ini mulai September nanti,” tutup Novias, Direktur Operasi II Hutama Karya.

Dalam rangka mengurangi emisi dan melindungi lingkungan sekitar, teknologi USC di proyek pembangkit listrik Jawa 9 & 10 di PLTU Suralaya dilengkapi dengan beberapa implementasi teknologi canggih lainnya seperti Advance Low NOx Burner, Electrostatic Precipitator, Flue Gas  Desulphurization, daninstalasi  berteknologi  Selective  Catalytic  Reduction.  Proyek  ini juga  telah  mengimplementasikan IFC  Performance  Standard  on  Enviromentaland Social Sustainabilityyang  telah  diakui  secara  internasional.  Hal  ini  menjadikan  proyek  ini  juga mampu melindungi kehidupan di sekitarnya baik dari aspek lingkungan maupun keberlanjutan sosialnya