Terima Kasih Pak Jokowi, Industri Keramik Sudah Nikmati Harga Gas Baru

Oleh : Ridwan | Senin, 06 Juli 2020 - 16:25 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas dukungan stimulus dengan mulainya implementasi dari Kepmen ESDM No. 89K/2020 tentang harga gas sebesar USD 6/MMBTau yang berlaku surut mulai tanggal 13April 2020.

Implementasi harga gas USD 6/MMBTU tersebut mulai diberlakukan untuk industri keramik yang berada di Jawa bagian Barat untuk pembayaran tagihan gas yang jatuh tempo di pertengahan bulan Juli ini dimana 44% dari alokasi volume gas yang tertuang dalam Kepmen ESDM No.89K/2020.

Tetapi, 56% pelaku indusri keramik masih menggunakan harga lama sebesar USD 9,1/MMBTU. Hal tersebut dikarenakan LOA PGN dengan Hulu yang sudah terlaksana baru tercapai 44%.

"Sedangkan, industi keramik yang berada di Jawa bagian Timur akan menerima stimulus harga gas USD6/MMBTY untuk pembayaran yang jatuh tempo di buoan Agustus mendatang," kata Ketua Asaki Edy Suyanto kepada Industry.co.id di Jakarta, Senin (6/7/2020).

Dijelaskan Edy, Asaki sangat menghargai atensi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian ESDM yang terus mengawal implementasi dari stimulus harga gas baru tersebut.

"Terlebih kami (Asaki) menghargai "best effort" dari PGN karena tagihan dengan harga baru sangat membantu industi keramik yang sedang mengalami kesulitan cashflow akibat penerapan PSBB dan pelemahan daya beli masyarakat," terangnya.

Asaki menyakini dengan implementasi harga gas baru dapat membantu meningkatkan day saing industri yang tentunya juga memberikan mutiplier effect.

"Tentunya dengan stimulus harga gas baru ini, Asaki bisa lebih agresif memanfaatkan peluang pasar di kawasan ASEAN dan peluang baru untuk pasar Australia yang selama ini dikuasai produk keramik asal Malaysia," ungkap Edy.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →