Wah Bahaya, Presiden Jokowi Sebut Sejumlah Daerah Kini Tengah Alami Defisit Bahan Pokok

Oleh : Ridwan | Selasa, 28 April 2020 - 15:35 WIB · 1 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Sejumlah daerah di Indonesia mengalami defisit pasokan bahan pokok. Informasi tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo dalam Rapat Terbatas tentang Lanjutan Pembahasan Antisipasi Kebutuhan Bahan Pokok di Istana Bogor, Selasa (28/4/2020).

Jokowi menyebut defisit sudah terjadi pada pasokan beras, jagung, cabai, bawang merah, telor ayam, gula pasir dan bawang putih. Untuk beras, defisit pasokan sudah terjadi di 7 provinsi. 

Untuk jagung, defisit terjadi di 11 provinsi, cabai besar 23 provinsi, bawang merah 1 provinsi, telor ayam di 22 provinsi, gula pasir 30 provinsi dan bawang putih di 31 provinsi.

"Untuk stok minyak goreng diperkirakan cukup untuk 34 provinsi," katanya. 

Atas dasar itulah, Jokowi memerintahkan jajarannya untuk bergerak cepat. Namun, ia meminta kepada jajarannya untuk menghitung secara cermat daerah yang mengalami kelebihan dan kekurangan pasokan sehingga bahan pokok bisa didistribusikan secara merata.

Selain itu, Presiden juga memerintahkan jajarannya untuk selalu memastikan rantai distribusi bahan pokok ke daerah yang mengalami defisit. 

"Pastikan distribusi dengan baik sehingga daerah yang defisit bahan pokoknya bisa di-supply dari daerah yang surplus. Distribusi pangan jangan sampai terganggu," ujarnya.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →