Industri Migas Krisis Tenaga Kerja?
INDUSTRY.co.id - Krisis tenaga kerja berkompeten menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi industri minyak dan gas bumi.
"Salah satu tantangan utama yang dihadapi industri minyak dan gas saat ini adalah bagaimana mempertahankan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten secara berkesinambungan," kata Ketua Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Alfi Rusin dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Kamis (1/12/2016).
Dia memaparkan, SDM yang dimaksud tidak hanya menjamin ketersediaan tenaga kerja yang sesuai dengan bidang dan kompetensinya, tetapi juga bagaimana menciptakan pemimpin.
Hal tersebut, lanjutnya, karena saat ini dinilai dibutuhkan sosok pemimpin-pemimpin baru yang siap mengawal kedaulatan energi bangsa agar menjadi lebih mudah untuk dicapai.
Sebagaimana diwartakan, IATMI bakal menggelar simposium dan Kongres Nasional XIV di Jakarta, 6-8 Desember 2016, guna memperkuat sinergi nasional dalam rangka mewujudkan kedaulatan energi di Tanah Air.
"Tema ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, di mana tantangan akan kebutuhan energi Tanah Air semakin besar yang mengharuskan kita untuk berpikir dan bekerja lebih keras untuk mencapai Kedaulatan Energi di masa datang," kata Ketua IATMI Alfi Rusin.
Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengharapkan harus ada perubahan paradigma migas tidak hanya menjadi sumber pendapatan Negara, tetapi bisa menjadi penggerak berbagai industri untuk mendorong perkembangan ekonomi di masyarakat.
"Harus ada perubahan paradigma migas dari pendapatan menjadi penggerak berbagai industri seiring dengan menurunnya produksi minyak," kata Kepala Bagian Humas SKK Migas Moch. Fatah Yasin di Yogyakarta, Kamis (10/11).
Berbicara dalam "Media Visit and Gathering" di Yogyakarta, ia menjelaskan produksi minyak secara Nasional masih bertahan rata-rata sekitar 820 ribu barel per hari.
Ia optimistis produksi minyak sekarang masih bisa ditingkatkan dengan adanya ekplorasi yang dilakukan, meskipun sementara ini hasilnya masih didominasi gas dibandingkan minyak.
"Usaha lainnya yang dilakukan dengan mempertahankan laju penurunan produksi dengan berbagai usaha seperti yang dilakukan 'Joint Operating Body' (JOB) Pertamina-Petrochina East Java (PPEJ) dengan melakukan injeksi sumur minyak yang produksinya menurun secara alami," jelasnya.(iaf)