Meski Target 17 Juta Wisman Meleset, Menpar Bangga Devisa Pariwisata Sumbang USD 17,6 Miliar
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) telah menyusun strategi prioritas yang akan dilaksanakan pada 2019 mendatang.
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam acara Jumpa Pers Akhir Tahun (JPAT) 2018 yang mengusung tema "The Winner Wonderful Indonesia Energy" di Balairung Soesilo Soedarman, Kantor Kemenpar, Jakarta, Kamis (20/12/2018).
Untuk pengembangan destinasi pariwisata, Menpar mencanangkan Top-10 program strategis yakni, pengembangan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP), Pengembangan 5.000 homestay, peningkatan aksebilitas (sarana prasarana) di 10 DPP, peningkatan investasi dan pembiayaan pariwisata sebesar USD 2.500 juta.
Selanjutnya, penerapan sustainability tourism development (STD) di 16 destinasi, pengembangan 10 kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata, pengembangan nomadic tourism di 10 DPP, serta perintisan destinasi pariwisata di sekitar 10 DPP.
Sementara itu, strategi di bidang pemasaran pariwisata, Menpar Arief Yahya akan menerapkan "3 (tiga) jurus jitu raih 20 jita wisataman mancanegara (wisman)" atau dikenalkan sebagai extra ordinary yang mencakup tiga program yaitu, border tourism, tourism hub, dan low cost terminal (LCT).
"Program super extra ordinary ini akan menjadi senjata pamungkas dalam mewujudkan target akhir 20 juta wisman tahun depan," kata Menpar Arief Yahya.
Dalam kesempatan tersebut, Menpar menjelaskan, capaian kunjungan wisman periode Januari hingga Oktober 2018 secara komulatif sebesar apa 13.240.827 atau tumbuh 11,9 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 11.830.738.
"Target 17 juta wisman tahun ini meleset, hingga akhir tahun diperkirakan mencapai 16,2 juta atau sekitar 95 persen, sedangkan untuk wisnus mencapai 275 juta di tahun 2018," terangnya.
Meski target wisman tak tercapai, terang Menpar, namun untuk target devisa diproyeksikan mencapai USD 17,6 miliar dengan perhitungan capaian 16 juta wisman dikalikan rata-rata pengeluaran per kunjungan USD 1.100 per wisman.
"Tahun depan diproyeksikan devisa mencapai USD 19 miliar," imbuh Menpar.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, angka perolehan devisa sebesar USD 17,6 miliar tersebut menempatkan sektor pariwisata berada di posisi teratas sebagai penghasil devisa atau akan sejajar bahkan mengalahkan CPO yang saat ini berada di posisi teratas dengan nilai ekspornya mencapai USD 17 miliar.
Menpar juga menjelaskan, capaian pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) tidak ada masalah karena terus tumbuh, bahkan untuk target tahun ini sebanyak 270 juta sudah tercapai.
"Sedangkan target wisnus 2019 mendatang sebesar 275 juta sudah tercapai pada tahun ini," papar Arief Yahya.
Disela-sela Jumpa Pers, Menpar sempat bercerita awalnya ia optimis target wisman tahun ini akan tercapai, karena pada Juni dan Ji 2018 kunjungan wisman sudah sampai 1,5 juta per bulan (kali 12 bulan menjadi 18 juta), namun munculnya musibah gempa bumi di Lombok pada 29 Juli 2018 (tak berdampak terhadap kunjungan wisman) disusul gempa 7 SR pada 5 Agustus 201i terjadi canceletion besar-besaran hingga lebih dari 70 persen.
"Untuk tahun depan, kita sudah punya tim cepat tanggap. Dengan respon yang sangat cepat, saya berharap semua akan baik-baik saja," tutup Menpar.