Dongkrak Jadi Destinasi Wisata Internasional, Kemenpar Boyong Pelaku Industri Pariwisata Tanjung Lesung Studi Banding ke Yogyakarta
INDUSTRY.co.id - Yogyakarta, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus menggenjot pengembangan atraksi wisata khususnya di kawasan penyangga (Bufferzone) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, Desa Cikadu.
Dalam hal ini, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Ragional II (Jakarta dan Banten) Kemenpar mengadakan Workshop dan Benchmarking kepada Penggiat Pariwisata di Kawasan Penyangga (Bufferzone) Tanjung Lesung ke Desa Nglanggeran, Bantul, Yogyakarta.
Acara yang secara resmi dibuka oleh Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Ragional II Kemenpar Reza Pahlevi tersebut diikuti oleh 30 peserta yang terdiri tokoh masyarakat, penggiat dan pelaku industri pariwisata di kawasan Tanjung Lesung.
Dalam sambutannya, Reza mengatakan, acara Workshop dan Benchmarking ini adalah sebuah janji dari Menteri Pariwisata Arief Yahya untuk meningkatkan atraksi di desa Cikadu yang menjadi kawasan peyangga KEK Tanjung Lesung.
"Workshop dan Benchmarking ini sekaligus memberikan pengalaman dan pengenalan dari desa yang sudah maju seperti Nglanggeran untuk dapat mereka ambil sisi positif nya dan diterapkan di Cikadu," kata Reza kepada Industry.co.id di Bantul, Yogyakarta, Jumat (30/11/2018).
Ditambahkan Reza, Desa Nglanggeran dapat menjadi contoh bagi para pelaku di Desa Cikadu karena mereka (penduduk Nglanggeran) dapat meningkatkan pariwisata dan ekonomi mereka tanpa bantuan dan campur tangan dari pemerintah.
"Tanpa campur tangan dari pemerintah mereka bisa berdiri sendiri dan berkembang, ini yang harus dicontoh oleh desa-desa wisata lainnya," tegasnya.
Menurut Reza, masih ada beberapa pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan antara lain membangun ekositem atraksi pariwisata, serta kesiapan masyarakat disana (Cikadu) untuk mengelola pariwisata tersebut.
"Bukan membangun fasilitas, tetapi aktifitas-nya. Ini yang harus kita selesaikan dan ciptakan agar mampu menarik wisatawan datang kesana, sehingga akan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar," imbuh Reza.
Reza berharap dengan diadakannya studi banding ini, akan menambah wawasan pelaku industri pariwisata, sehingga wisata Tanjung Lesung akan terus menjadi destinasi yang berstandar internasional.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Area I Kemenpar, Wastutik mengungkapkan, tujuan dari program ini untuk memperdalam pengalaman dan pengenalan para pelaku industri pariwisata di Tanjung Lesung tentang mengelola desa wisata di kawasan penyangga.
"Semoga dengan studi banding ini dapat meningkatkan dan memberikan kontribusi positif untuk para pelaku industri pariwisata di Tanjung Lesung khususnya di kawasan peyangga yang akan menjadi desa wisata," kata Wastutik.
Wastutik berharap melalui kegiatan ini para peserta workshop dan benchmarking dapat mengambil manfaat dalam mengelola industri pariwisata di desa-desa peyangga kawasan Tanjung Lesung.
"Semoga ini akan menjadi kunci keberhasilan peningkatan pariwisata khususnya di KEK Tanjung Lesung," tuturnya.
Sementara itu, Paundra Bayyu Ajie selaku Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Provinsi Banten mengapresiasi kegiatan workshop dan benchmarking ini.
Menurutnya, ini merupakan program yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pelaku industri pariwisata di Tanjung Lesung.
"Ini merupakan program yang konkret, mereka dapat melihat langsung apa yang telah dilakukan daerah lain yang kriterianya hampir serupa dengan daerah kita yang utamanya adalah pariwisata," tutup Bayyu.