Kemenperin: Penerapan Bea Keluar Flat 15% Ciptakan Keadilan Bagi Industri Agro

Oleh : Ridwan | Jumat, 23 Februari 2018 - 17:55 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) masih mengupayakan meminta Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk memberikan bea keluar tetap (flat) sebesar 15% untuk komoditas prioritas yang menjadi bahan baku industri agro.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Panggah Susanto mengatakan, saat ini bea keluar yang dikenakan pemerintah cukup rendah karena mekanisme pemberian bea keluarnya mengacu pada harga pasar. Saat ini, karena harga rendah maka tidak diterapkan bea keluar untuk produk ekspor.

"Kalau di bawah harga tertentu itu dia (bea keluarnya) di bawah 10%. Kalau harga rendah lagi itu (bea keluarnya) bisa 0%," kata Panggah di Jakarta (23/2/2018).

Panggah menilai, mekanisme tersebut akan membuat produsen bahan baku akan memilih ekspor dibandingkan digunakan industri agro dalam negeri. Sebab, lanjutnya, jika komoditas itu digunakan untuk industri agro dalam negeri akan dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10%.

"Ini sudah tidak imbang kalau ke industri dalam negeri 10%, kalau ekspor 0%. Belum lagi kalau industri agro impor kena 5%," kata Panggah.

Menurutnya, hal tersebut akan memberikan keadilan bagi industri agro dalam negeri. "Kami ingin perlakuan yang sama terhadap ekspor, impor, dan industri dalam negeri," kata dia.

Selain persoalan bea keluar, kata Panggah, kendala lainnya untuk menggenjon hilirisasi industri agro yakni produksi pertanian yang bergantung musim. Sementara, industri memerlukan kestabilan pasokan bahan baku tersebut untuk tetap berjalan.

Tantangan lainnya, lanjut Panggah, adalah bagaimana menjaga kualitas bahan baku pasca panen. "Bahan baku itu harus dijaga kualitasnya ketika dikeringkan dan disimpan," tuturnya.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →