Dua Ekonom Prediksi Bunga 7-Day Reserve Repo Rate Tetap 4,75%

Oleh : Abraham Sihombing | Jumat, 13 Januari 2017 - 10:20 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta Dua ekonom memprediksi Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dilaksanakan pekan depan akan mempertahankan tingkat suku bunga 7-Day Reserve Repo pada level 4,75%.

Menurut Gudy Cahyadi, Ekonom Development Bank of Singapore (DBS) Group, BI pada awal 2017 ini memiliki kemungkinan besar untuk menahan tingkat suku 7-Day Reserve Repo. Pasalnya, BI baru memiliki peluang untuk menaikkan suku bunga 7-Day Reserve Repo pada paruh kedua tahun ini.

Kami perkirakan BI kemungkinan baru menaikkan suku bunga 7-Day Reserve Repo sebesar 25 basis poin (bps) pada semester kedua 2017, ujarnya, Jumat (13/01/2017).

Pendapat serupa dikemukakan pula oleh Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom Institute for Development on Economics and Finance (Indef). Bima mengungkapkan, kondisi eksternal Indonesia masih merupakan faktor utama untuk mempertimbangkan berbagai kebijakan moneter di dalam negeri.

Bhima memprediksi BI akan terus menjaga kurs nilai tukar rupiah hingga pertengahan 2017 dimana The Federal Reserves, bank sentral Amerika Serikat, akan menaikkan tingkat suku bunga. Jika hal itu terjadi, maka kelonggaran moneter jadi berkurang pada saat itu.

Karena itu, BI tampaknya akan mempertahankan suku bunga 7-Day Reserve Repo sebesar 4,75% di sepanjang paruh pertama tahun ini, imbuhya.

Menurut Bhima, Indonesia masih akan terus mencermati tekanan global di tengah ketidakpastian kebijakan perekonomian AS yang ditetapkan oleh Donal Trump, Presiden AS terpilih. Selain itu, laju inflasi di Indonesia diprediksi akan meningkat signifikan pada awal tahun ini. Hal itu mengakibatkan BI tidak akan menjadi agresif untuk menurunkan suku bunga 7-Day Reserve Repo.***

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →