Devisa dari Wisatawan Asing Ditargetkan Rp223 Triliun pada 2018

Oleh : Abraham Sihombing | Selasa, 30 Januari 2018 - 16:53 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Devisa yang berasal dari para wisatawan asing ditargetkan sebesar Rp223 triliun pada 2018. Target tersebut lebih tinggi 9,85% dibandingkan dengan target realisasi devisa tersebut pada 2017 sebesar Rp203 triliun.

“Target itu diprediksi berasal dari 17 juta wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada 2018. Itu diikuti oleh proyeksi peningkatan total tenaga kerja sektor pariwisata sebesar 5% menjadi 12,6 juta orang pada 2018 dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Arief Yahya, Menteri Pariwisata, di Jakarta, Selasa (30/01/2018).

Arief mengemukakan, sektor pariwisata pada 2018 ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sekitar 5,25% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut bahkan diharapkan dapat mencapai 5,5% pada 2019.

Arief menuturkan, sektor pariwisata Indonesia berkembang pesat dalam beberapa tahun belakangan ini. Itu terlihat dari kinerja pada 2017 dimana perolehan devisa sektor pariwisata telah melampaui total devisa yang diperoleh dari ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di waktu yang bersamaan.

“Memang sudah kelihatan, bahwa devisa yang diperoleh dari pariwisata itu akan melampaui devisa dari ekspor CPO. Pada 2016, total devisa dari ekspor CPO tercatat US$15,97 miliar dan dari sektor pariwisata US$13,57 miliar. Sudah terpaut tipis,” ungkap Arief.

Kedepan, demikian Arief, Kementerian Pariwisata akan mengoptimalkan pemanfaatan promosi pariwisata Indonesia berbasis digital, pengembangan desa wisata dan peningkatan akses komunikasi maupun aksesibilitas transportasi udara. (Abraham Sihombing)

 

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →