Mengoptimalkan Potensi Ekspor Produk Hortikultura
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Produk-produk hortikultura Indonesia potensial untuk ditingkatkan ekspornya. Selain upaya pembenahan produksi dalam negeri, negosiasi menjadi sangat penting untuk meningkatkan akses pasar.
Diplomasi agar lancarnya ekspor produk-produk Indonesia ke negara tujuan terus dilakukan pemerintah. Salah satunya untuk produk Industri hortikultura.
Dalam agenda Menteri Perdagangangan Enggartiasto Lukita pada acara Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) Economy Leaders Week bulan November 2017 di Da Nang, Vietnam, diselingi dengan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan dan Ekspor Selandia Baru, David Parke. Pada kesempatan tersebut Enggar meminta agar pasar ekspor buah-buahan asal Indonesia bisa masuk ke Selandia Baru.
Hal tersebut menyusul kebijakan Selandia Baru yang membuka akses bagi ekspor buah Salak Indonesia. Tepatnya pada tanggal 23 Oktober 2017 lalu ekspor perdana buah salak Indonesia ke Selandia Baru dilakukan pada melalui Bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta.
Ekspor tersebut diawali dengan penandatangan kesepakatan protokol ekspor buah salak dari Indonesia ke Selandia Baru oleh Kepala Badan Karantina Pertanian dan Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia.
Ekspor salak tersebut terlaksana setelah salak Indonesia memperoleh Import Health Standard (IHS): Fresh Salacca for Human Consumption pada tanggal 9 Juni 2017 dari Ministry of Primary Industry (MPI) New Zealand.
Difasilitasi oleh Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) untuk mendapatkan akses pasar salak ke Selandia Baru melalui pendampingan penyiapan kebun registrasi, rumah kemas (packing house) registrasi, prosedur pelayanan sertifikasi phyosanitary, serta audit lapangan oleh Tim Ahli MPI Selandia Baru, hingga akhirnya penerbitan IHS oleh Pemerintan Selandia Baru.
Beberapa persyaratan IHS antara lain buah salak harus berasal dari kebun yang telah diregistrasi dan di proses di packing house yang telah diregistrasi dengan menerapkan standar ekspor diseluruh tahapan kegiatannya, baik yang dilakukan di kebun (pengendalian penyakit, pemanenan) maupun di packing house (sortir, pembersihan, grading, packaging, labeling).
Kekayaan Hortikultura Indonesia
Berlokasi di daerah khatulistiwa dan beriklim tropis memberikan keuntungan bagi Indonesia dalam bentuk aneka ragam produk hortikultura berupa bunga, sayuran dan buah-buahan yang diproduksi di berbagai daerah di nusantara.
Dengan keistimewaan tersebut beberapa buah produksi Indonesia tersebut sebagai buah eksotis.Sebut saja manggis, sirsak, rambutan, salak dan buahan lainnya yang digemari.
Aneka sayuran dan buah-buahan tersebut tak hanya dinikmati oleh masyarakat lokal melainkan juga konsumen luar negeri.Ya, sebagai negara anggota WTO, buah, sayuran dan bunga Indonesia saat ini sudah diekspor kepada 29 negara.Seperti disampaikan oleh Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Agung Hendriadi, pada tahun 2016 setidaknya terdapat 77 jenis sayuran Indonesia yang telah diekspor ke Taiwan, Malaysia, Singapura, Thailand dan Belanda. Sementara produk ekspor sayuran Indonesia seperti kubis, sawi dan bunga kol pada periode tersebut telah diekspor hingga sebanyak 40.240 ton.
Di negara tujuan ekspor produk hortikultura Indonesia memimpin ekspor. Untuk sayuran seperti kubis, buncis dan selada air misalnya, data ekspor Januari–Maret 2017 menunjukkan posisi Indonesia di urutan 3 tertinggi untuk ekspor sebesar 132.878 ton di negara tujuan ekspor.
Tak hanya sayuran dan buah. Berbagai variasi bunga juga tercatat dalam ekspor Indonesia. Sebut saja bunga kamboja, melati dan krisan mendapatkan permintaan dari Korea, Malaysia, Vietnam dan beberapa negara lainya. Pada data tahun 2016 volume ekspor bunga ke tercatat sebesar 4.982 ton.
Sementara itu data ekspor produk hortikultura khususnya bunga kamboja dan melati periode Januari – Maret 2017 Indonesia telah mengekspor sebesar 1.067 ton ke Kamboja, Vietnam, Thailand, China dan Singapura.
Khusus salak, selama tahun 2016 dan 2017 tercatat eksor sebanyak 791 ton dan 477 ton diantaranya terdiri dari buah salak yang diekspor ke berbagai negara di dunia yaitu Tiongkok, Australia, Belanda, Perancis, Malaysia, Thailand, Kamboja, Hongkong, Singapura, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Timor Leste dan Kuwait.
Selain salak, buah eksotis manggis dan pisang juga menjadi primadona pasar luar negeri. Data dari Kementerian Pertanian mencatat bahwa produk buah manggis Indonesia telah rutin diekspor ke 29 negara.Sedangkan Jepang, China dan Malaysia menempati urutan 3 terbesar negara pengimpor pisang dari Indonesia.
Upaya Perbaikan Produksi
Tak hanya diplomasi di luar negeri, pembenahan pengembangan perkebunan hortikultura dalam negeri juga harus dilakukan. Pengembangan produk-produk hortikultura khususnya buah-buahan juga mendapat perhatian dari pemerintah.
Seperti disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan bibit pohon dan pupuk gratis bagi petani.
Bantuan senilai Rp 5,5 triliun tersebut tak hanya untuk bantuan bibit dan pupuk tapi juga optimalisasi lahan tidak produktif seperti rawa, lahan tadah hujan dengan potensi luas lahan sebanyak 10 juta hektar
Selain itu Kementerian Pertanian juga bekerja sama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk membangun 30.000 embung yang akan mengaliri sekitar 4 juta hektar lahan.
Isu Sanitary and Phytosanitary / SPS kerap menjadi hambatan ekspor produk hortikultura Indonesia ke negara tujuan. Manggis segar asal Indonesia misalnya, dikenakan larangan masuk ke pasar Tiongkok sejak tahun 2013.
Larangan tersebut diterapkan pemerintah Tiongkok dengan alasan karena ditemukannya hama seperti organisme parapupto hispidus; serta terdeteksi manggis asal Indonesia mengandung logam berat kadmium . Logam tersebut biasanya ditemukan dalam penggunaan pestisida secara berlebihan.
Pemerintah Indonesia memanfaatkan sesi ke-68 pertemuan Komite Sanitari dan Fitosanitari (Sanitary and Phytosanitary / SPS) pada World Trade Organization (WTO) untuk kembali mengangkat isu hambatan perdagangan terhadap ekspor buah manggis dari Indonesia ke Tiongkok. Sebelumnya isu tersebut juga telah pernah diangkat di forum SPS-WTO pada pertemuan Komite SPS-WTO pada akhir Oktober 2016.
Sementara itu serbuan produk hortikultura impor Indonesia juga tak kalah besar. Pada periode Januari-Februari 2017 impor berbagai jenis sayuran Indonesia tercatat sebesar 148.216 ton, dengan nilai US$ 148,58 juta. Impor tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2016 yang sebesar 120.258 ton dengan nilai US$ 99,56 juta.
Adapun impor sayuran terbesar berasal dari China, dengan volume 91.593 ton atau senilai US$ 106,37 juta dan sisanya berasal dari Myanmar, Kanada, Ethiopia, Amerika Serikat, dan lainnya.
Pada periode yang sama impor buah-buahan tercatat sebesar 161.402 ton dengan nilai US$ 233,44 juta. Adapun impor buah terbesar paling banyak berasal dari China dengan volume 96.737 ton (US$ 137,36 juta), sisanya berasal Thailand, Pakistan, Amerika Serikat, Mesir, dan lainnya.