Astra Agro Raup Laba Rp373 Miliar, Naik Tajam di Tengah Dinamika Global
INDUSTRY.co.id - Jakarta — PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan kinerja gemilang pada kuartal I 2026 dengan pertumbuhan laba bersih yang signifikan. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp7,5 triliun, naik 6,8 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Dari sisi profitabilitas, laba bersih Astra Agro melonjak hingga 34,8 persen YoY menjadi Rp373 miliar. Kinerja positif ini menunjukkan efektivitas strategi perusahaan dalam menjaga efisiensi operasional dan pengendalian biaya.
Peningkatan tersebut juga tercermin pada rasio net profit margin (NPM) yang naik menjadi 5 persen pada kuartal I 2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,9 persen.
Direktur Astra Agro Lestari, Tingning Sukowignjo mengatakan, capaian ini tidak terlepas dari kolaborasi kuat dengan para pemangku kepentingan serta dukungan berkelanjutan yang memperkuat ketahanan operasional dan finansial perusahaan.
“Pencapaian saat ini berkat dukungan berkelanjutan dari para stakeholders. Terima kasih atas kepercayaan dan dedikasi seluruh pihak yang senantiasa mendampingi perjalanan Astra Agro,” ujar Tingning dalam keterangan resmi, Selasa (27/4).
Ia menambahkan, perusahaan akan terus memperkuat kolaborasi guna mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi seluruh pihak.
Kinerja Astra Agro pada kuartal pertama tahun ini turut ditopang oleh peningkatan volume penjualan. Penjualan crude palm oil (CPO) dan produk turunannya naik 6,3 persen YoY, sementara penjualan kernel dan derivatifnya meningkat 9,8 persen YoY.
Ke depan, Astra Agro optimistis harga CPO akan tetap berada pada level yang cukup mendukung, seiring dengan permintaan global yang relatif stabil.
Meski demikian, perseroan tetap mewaspadai sejumlah tantangan, terutama faktor cuaca dan usia tanaman yang berpengaruh terhadap produktivitas. Untuk itu, Astra Agro menyiapkan strategi perencanaan yang matang serta alokasi biaya yang tepat guna menjaga kinerja hingga akhir tahun.
Langkah tersebut juga diambil untuk mempertahankan daya saing biaya produksi serta mengantisipasi potensi volatilitas harga CPO dan dinamika geopolitik global.