INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Harga minyak bergerak bullish pada perdagangan Rabu (19/8/2026), ditopang meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pasokan global di tengah belum adanya kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik Iran. Ketidakpastian semakin tinggi setelah gencatan sementara memasuki hari kedua berakhir tanpa tanda-tanda kesepakatan baru.

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada perkembangan situasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia. Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (18/8) bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung maupun dijadwalkan dengan Iran kembali memperbesar kekhawatiran mengenai keberlanjutan gangguan pasokan.

Di sisi lain, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Mohammad Mokhber menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga AS memenuhi sejumlah ketentuan dalam kesepakatan sementara yang diajukan Iran. Persyaratan tersebut mencakup pencabutan blokade laut dan sanksi serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.

Risiko gangguan pasokan semakin kuat setelah Organisasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal terkena serangan proyektil tak dikenal pada Selasa dini hari ketika berlayar keluar dari Selat Hormuz. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada ruang mesin dan menimbulkan korban di antara awak kapal.

Data pelayaran pada Selasa juga menunjukkan aktivitas kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Senin masih berada di level satu digit. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa gangguan terhadap lalu lintas pelayaran belum sepenuhnya mereda dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak.

Sentimen positif juga datang dari laporan stok minyak mentah Amerika Serikat versi kelompok industri American Petroleum Institute (API). API mencatat persediaan minyak mentah AS turun 328.000 barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus, berbalik dari kenaikan sebesar 9,07 juta barel pada pekan sebelumnya.

Penurunan stok tersebut mengindikasikan permintaan minyak yang masih cukup positif di pasar AS. Namun, pelaku pasar masih menunggu data persediaan resmi dari pemerintah AS melalui Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu malam.

Di tengah tekanan geopolitik, perkembangan aktivitas pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah mulai memberikan gambaran yang lebih beragam. Data pelacakan kapal Vortexa dan Kpler menunjukkan Saudi Aramco telah kembali melakukan pemuatan minyak dari wilayah Selat Hormuz pada pekan lalu setelah sempat terhenti selama tiga minggu.

Meski demikian, sejumlah kapal tanker masih mengantre untuk melakukan pemuatan. Data Kpler memperkirakan sekitar 670.000 barel per hari minyak mentah Timur Tengah akan dimuat di pelabuhan Sidi Kerir untuk tujuan Asia sepanjang bulan ini.

Kondisi tersebut menunjukkan pasar minyak masih menghadapi tarik-menarik antara risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah dan indikasi mulai pulihnya aktivitas pengiriman. Selama ketidakpastian di Selat Hormuz belum mereda, risiko kenaikan harga minyak tetap terbuka.

Dari sisi teknikal, harga minyak berpotensi menguji resistance terdekat di level US$82 per barel. Namun, apabila muncul katalis negatif yang meredakan kekhawatiran pasokan, harga minyak berpotensi mengalami koreksi menuju level support terdekat di US$87 per barel.