Bos Samsung: Era AI Berikutnya Ditentukan oleh Kemampuan Memahami Manusia, Bukan Sekadar Kecerdasan Teknologi

Oleh : Hariyanto | Kamis, 09 Juli 2026 - 15:24 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - JAKARTA – CEO dan President Samsung Electronics, TM Roh, menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini memasuki babak baru yang tidak lagi sekadar berfokus pada kemampuan menjawab pertanyaan, tetapi juga mampu bertindak membantu pengguna melalui konsep agentic AI. Menurutnya, masa depan AI akan ditentukan oleh seberapa baik teknologi tersebut memahami manusia dan menghadirkan pengalaman yang personal serta dapat dipercaya.

Dalam pandangannya, sejarah menunjukkan bahwa teknologi yang benar-benar mengubah dunia bukan hanya karena kecanggihannya, melainkan ketika teknologi tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan listrik, internet, hingga smartphone yang akhirnya diterima luas karena mampu terintegrasi dalam aktivitas masyarakat.

"AI berkembang semakin cerdas dengan sangat cepat, dan tren ini akan terus berlanjut. Namun, untuk mengubah cara hidup manusia, ada pertanyaan yang harus dijawab: di mana, bagaimana, dan kepada siapa kecerdasan tersebut dapat dihadirkan. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menentukan babak berikutnya dalam perkembangan AI," ujar TM Roh.

Ia menjelaskan, AI kini memasuki era ketika sistem dapat mengambil tindakan atas nama pengguna, meski keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Agar hal tersebut dapat terwujud, AI harus mampu memahami karakter, kebiasaan, dan kebutuhan pengguna melalui perangkat yang digunakan setiap hari.

Samsung menilai ekosistem perangkat yang dimilikinya menjadi fondasi penting untuk menghadirkan pengalaman tersebut. Mulai dari smartphone, tablet, Galaxy Watch, TV, perangkat rumah tangga pintar, hingga perangkat berformat baru seperti ponsel lipat dan kacamata pintar, seluruhnya dirancang agar mampu membangun pemahaman yang lebih utuh terhadap pengguna.

Menurut TM Roh, kekuatan AI akan semakin terasa ketika seluruh perangkat tersebut saling terhubung. Data dari berbagai perangkat dapat diolah menjadi bantuan yang relevan pada waktu yang tepat, seperti data tidur dari smartwatch yang membantu menyusun aktivitas pengguna pada hari berikutnya.

"AI dalam performa terbaiknya bekerja secara senyap di latar belakang, menyatukan berbagai momen tersebut menjadi satu pengalaman yang utuh. Itulah sebabnya kami telah menghabiskan waktu bertahun-tahun membangun sebuah ekosistem yang tidak hanya menjangkau lebih banyak momen, tetapi juga menghubungkannya," katanya.

Ia menambahkan, Samsung memilih pendekatan ekosistem terbuka melalui SmartThings agar berbagai perangkat, layanan, dan mitra dapat saling terhubung. Menurutnya, keterbukaan memungkinkan inovasi berkembang lebih cepat sekaligus memperluas manfaat AI bagi lebih banyak pengguna.

Di sisi lain, TM Roh menekankan bahwa kepercayaan menjadi fondasi utama dalam pengembangan AI yang semakin personal. Pengguna harus mengetahui bagaimana AI bekerja, data apa yang digunakan, serta tetap memiliki kendali atas setiap keputusan yang diambil sistem.

"Samsung Knox melindungi setiap perangkat Galaxy, dan kini juga koneksi di antara perangkat-perangkat tersebut. Ketika AI bekerja lintas perangkat, melindungi data yang berpindah di antaranya menjadi hal yang sangat penting. Data yang paling bersifat personal tetap disimpan di perangkat, sehingga pengguna dapat memahami cara kerja AI sekaligus tetap memegang kendali," ungkapnya.

Menurutnya, perkembangan AI juga memengaruhi desain perangkat. Samsung terus mengembangkan perangkat foldable yang lebih tipis, ringan, tangguh, dan imersif agar mampu mendukung pengalaman AI yang semakin kompleks. Selain itu, AI juga akan memainkan peran yang lebih besar dalam sektor kesehatan melalui perangkat wearable yang memantau berbagai indikator tubuh untuk membantu pengguna menjalani kehidupan yang lebih sehat.

TM Roh memastikan Samsung akan memperkenalkan langkah berikutnya dalam pengembangan AI pada ajang Galaxy Unpacked mendatang. Ia menegaskan, persaingan AI ke depan bukan lagi soal siapa yang memiliki teknologi paling pintar, melainkan siapa yang paling memahami manusia.

"Pertanyaan yang akan menentukan era berikutnya bukanlah siapa yang memiliki AI paling cerdas, melainkan siapa yang paling memahami manusia dan mampu mengubah pemahaman tersebut menjadi pengalaman yang dapat dipercaya. Kami berkomitmen menempuh perjalanan ini dengan keterbukaan dan tanggung jawab, dimulai dari perangkat yang sudah ada di tangan Anda," tutup TM Roh.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →