Pemerintah Genjot Investasi dan Ekspor, Kemenko Perekonomian: Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Sangat Kuat
INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Pemerintah menegaskan optimisme terhadap prospek ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi. Dengan fundamental makro yang dinilai tetap solid, pemerintah kini memfokuskan langkah pada percepatan investasi, perluasan pasar ekspor, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan gejolak ekonomi dunia belum mengganggu ketahanan ekonomi domestik. Menurutnya, berbagai indikator makro masih menunjukkan performa yang kuat sehingga menjadi modal penting untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
"Di tengah situasi global yang penuh tantangan, indikator makro ekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja yang kuat. Berbagai tantangan yang kita hadapi dapat diatasi karena fundamental ekonomi nasional tetap terjaga dengan baik," ujar Susiwijono saat menyampaikan keynote speech dalam Indonesia Financial Summit 2026 di Jakarta, Kamis (25/6).
Ia memaparkan sejumlah indikator ekonomi yang menjadi penopang optimisme pemerintah, antara lain pertumbuhan ekonomi triwulan I 2025 sebesar 5,61%, inflasi Mei 2025 yang terkendali di level 3,08%, indeks keyakinan konsumen yang masih berada pada zona optimistis, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur kembali masuk fase ekspansi di level 50, cadangan devisa mencapai US$144,9 miliar atau setara 5,6 bulan impor, serta realisasi investasi triwulan I yang hampir menembus Rp500 triliun.
Untuk menjaga tren tersebut, pemerintah terus mengakselerasi berbagai agenda strategis, mulai dari deregulasi investasi dan penyederhanaan perizinan, penguatan sektor prioritas nasional, hilirisasi industri, pengembangan ekonomi digital, hingga peningkatan ketahanan pangan dan energi.
Di sisi perdagangan internasional, pemerintah juga mempercepat penyelesaian sejumlah perjanjian dagang strategis, termasuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Pemerintah juga berupaya memperkuat kualitas tenaga kerja melalui program vokasi dan magang yang disesuaikan dengan kebutuhan industri. Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing nasional di tengah perubahan lanskap ekonomi global.
Dalam kesempatan yang sama, Susiwijono turut menjelaskan penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Menurutnya, kebijakan tersebut bertujuan memastikan devisa hasil ekspor dari sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan perikanan masuk ke sistem keuangan domestik sehingga mampu memperkuat likuiditas valuta asing, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan cadangan devisa, serta mendukung pembiayaan pembangunan nasional.
Ia menegaskan bahwa kebijakan DHE SDA bukanlah aturan baru, melainkan penyempurnaan dari kebijakan yang telah diterapkan sebelumnya agar manfaat devisa hasil ekspor dapat dirasakan lebih besar oleh perekonomian nasional.
Menutup paparannya, Susiwijono mengakui masih terdapat tantangan terkait persepsi investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Namun, ia menilai tantangan tersebut harus dijawab dengan penyampaian informasi yang akurat mengenai kekuatan fundamental ekonomi nasional.
"Fundamental ekonomi kita sebenarnya sangat kuat. Kalau sekarang ada permasalahan terkait trust atau kepercayaan investor, maka kita perlu bersama-sama menjelaskan kondisi yang sebenarnya dan membangun optimisme terhadap perekonomian Indonesia ke depan," pungkasnya.