Jelang Penegakan EUDR, Eksportir China Didesak Perkuat Ketertelusuran Rantai Pasok
INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Perdagangan global komoditas yang berisiko memicu deforestasi memasuki babak baru. Bukan lagi sekadar ditentukan oleh kapasitas produksi, akses pasar kini semakin bergantung pada kemampuan pelaku usaha membuktikan asal-usul bahan baku melalui sistem ketertelusuran yang dapat diverifikasi.
Perubahan ini menjadi tantangan besar bagi China yang selama ini menjadi pusat pengolahan dan ekspor produk turunan kayu serta karet terbesar di dunia. Berdasarkan data Fern 2026, China setiap tahun mengekspor produk berbasis kayu senilai lebih dari 7,1 miliar euro dan produk karet senilai 4,01 miliar euro ke Uni Eropa. Di sisi lain, regulasi baru Uni Eropa melalui European Union Deforestation Regulation (EUDR) mewajibkan seluruh komoditas terkait memiliki ketertelusuran penuh hingga ke lahan asal, lengkap dengan bukti legalitas dan verifikasi bebas deforestasi.
Dengan pangsa sekitar 30%-35% produksi pintu dan jendela kayu global, industri China menghadapi tuntutan baru yang tidak hanya berkaitan dengan kelengkapan dokumen, melainkan kualitas data yang dapat diaudit.
Persoalannya, sebagian besar rantai pasok yang beroperasi melalui China belum dibangun untuk memenuhi tingkat transparansi tersebut. Struktur pasokan yang terfragmentasi, banyaknya perantara, serta keterlibatan ribuan petani kecil menyebabkan data hulu tidak seragam dan sulit diintegrasikan dengan sistem transparansi di hilir.
Dalam industri karet, misalnya, komoditas kerap berpindah tangan beberapa kali sebelum diproses sehingga menyulitkan pelacakan. Sementara pada industri kayu, perbedaan standar dokumentasi antarwilayah memperbesar kebutuhan terhadap sistem verifikasi legalitas yang lebih kuat. Kondisi serupa juga terjadi pada sektor pertanian lain yang masih memiliki keterbatasan visibilitas terhadap praktik budidaya di tingkat kebun.
Selain tantangan struktural, implementasi sistem ketertelusuran juga terkendala biaya tinggi, belum adanya standar pasar yang seragam, serta keterbatasan kapasitas teknis, terutama di kalangan petani kecil yang menjadi mayoritas pemasok bahan baku.
Tekanan regulasi pun datang dari dua sisi. Selain EUDR yang akan diberlakukan penuh pada 30 Desember 2026 bagi operator besar, Administrasi Umum Kepabeanan China (GAC) juga mulai memperketat prosedur deklarasi dan pengelolaan perusahaan luar negeri yang terlibat dalam ekspor produk pertanian. Kebijakan tersebut memperkuat aspek ketertelusuran, pengawasan karantina, dan efisiensi bea cukai sesuai standar fitosanitasi internasional.
Senior Head of Markets APAC KOLTIVA, Olivier Barents, menilai terjadi perubahan signifikan di kawasan Asia Pasifik terkait tuntutan transparansi rantai pasok.
"Di seluruh kawasan APAC, kami melihat pergeseran yang nyata. Pembeli tidak lagi menerima deklarasi pemasok begitu saja tapi juga mereka menginginkan data asal yang tahan uji. Bagi para eksportir China, ketertelusuran kini menjadi filter komersial: mereka yang dapat membuktikan pengadaan bebas deforestasi akan mempertahankan akun-akun utama mereka; yang tidak mampu berisiko tersingkir dari daftar pemasok," ujarnya.
Menurutnya, ketertelusuran kini tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap laporan keberlanjutan, melainkan menjadi fondasi utama dalam pengelolaan pengadaan, mitigasi risiko, serta daya saing perusahaan di pasar global yang semakin ketat.
Customer Success Representative KOLTIVA China, Liu Wenjing, mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan terletak pada ketersediaan teknologi, melainkan bagaimana mengimplementasikannya dalam skala besar pada rantai pasok yang masih terfragmentasi.
"Saat ini, ketertelusuran terkait langsung dengan akses pasar. Perusahaan-perusahaan China perlu membuktikan asal produk mereka dengan data yang kredibel dan dapat diaudit. Tantangan terbesar yang kami temui bukan pada ketersediaan teknologi, melainkan pada implementasi di skala besar, karena banyak rantai pasok yang masih terfragmentasi di tingkat hulu. Platform ketertelusuran seperti KoltiTrace membantu menjembatani kesenjangan tersebut dengan mengintegrasikan pengumpulan data lapangan, pemetaan pemasok, dan pelacakan transaksi dalam satu sistem sehingga ketertelusuran menjadi keunggulan strategis, bukan sekadar persyaratan kepatuhan," katanya.
Tekanan pasar bahkan telah mulai terasa sebelum penegakan regulasi berlangsung. Importir di Uni Eropa disebut semakin aktif melakukan penyaringan pemasok produk kayu dan karet dari China. Rantai pasok yang dinilai belum siap memenuhi persyaratan EUDR mulai disisihkan dalam proses pengadaan, sehingga risiko yang dihadapi eksportir bukan hanya ancaman sanksi di masa depan, tetapi juga hilangnya kontrak dagang sejak sekarang.
Seiring meningkatnya tuntutan terhadap data geolokasi, penilaian risiko, dan bukti pengadaan bebas deforestasi, kemampuan menyediakan informasi yang kredibel menjadi faktor penentu daya saing. Bagi sektor swasta, langkah mendesak adalah memetakan kesiapan rantai pasok dan mengidentifikasi titik-titik yang masih memiliki kesenjangan data. Sementara bagi pemerintah, penyelarasan tata kelola kepabeanan dan sektor pertanian dengan standar audit EUDR dinilai menjadi kunci agar kepatuhan dapat diterapkan secara efektif hingga tingkat petani kecil.