AMMN: Saham Tembaga-Emas yang Sedang Menunggu Re-Rating
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Saat dua tekanan besar mereda, apakah re-rating baru dimulai? Saham AMMN telah kehilangan lebih dari separuh nilainya sepanjang tahun berjalan dan terkoreksi hampir 80% dari puncak harga pada Mei 2024. Namun, pelemahan tersebut tampaknya lebih banyak dipicu oleh faktor sementara dibandingkan penurunan kualitas fundamental bisnis.
Dua katalis negatif yang selama ini membebani saham kini mulai berakhir. Pertama, periode transisi operasional dari fase 7 menuju fase 8 di tambang Batu Hijau yang menekan kadar bijih, produksi, dan profitabilitas sepanjang 2025. Kedua, tekanan jual besar-besaran dari dana pasif menyusul keluarnya AMMN dari indeks MSCI Global Standard yang efektif pada akhir Mei 2026.
Pemulihan operasional mulai terlihat pada kuartal pertama 2026. Produksi konsentrat melonjak lebih dari dua kali lipat secara tahunan, sementara laba bersih mencapai US$160 juta. Perbaikan ini menjadi sinyal awal bahwa fase terberat perusahaan kemungkinan telah berlalu.
Ke depan, pertumbuhan laba AMMN berpotensi sangat agresif. Laba bersih diproyeksikan meningkat dari sekitar US$249 juta pada 2025 menjadi lebih dari US$1 miliar pada 2026 dan mendekati US$1,6 miliar pada 2027. Dengan kata lain, profitabilitas perusahaan berpotensi naik sekitar empat kali lipat dalam satu tahun dan enam kali lipat dalam dua tahun.
Ada empat mesin utama yang mendorong proyeksi tersebut. Pertama, masuknya area penambangan fase 8 dengan kadar emas yang jauh lebih tinggi. Kedua, peningkatan utilisasi smelter dan refinery menuju kapasitas penuh. Ketiga, harga tembaga dan emas yang masih bertahan di level tinggi. Keempat, kontribusi tambahan dari penjualan asam sulfat sebagai produk sampingan smelter.
Menariknya, lonjakan laba ini diperkirakan terjadi meskipun margin EBITDA 2026 masih berada pada titik terendah siklus akibat kenaikan royalti, biaya energi, dan utilisasi smelter yang belum optimal. Ketika fasilitas hilir beroperasi penuh pada 2027, ekspansi margin berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan laba berikutnya.
Dari sisi valuasi, diskon yang melekat pada AMMN terlihat cukup besar dibandingkan perusahaan tambang tembaga dan emas global. Pada harga sekitar Rp3.110 per saham, AMMN diperdagangkan pada kisaran 12,7 kali laba 2026 dan 8,4 kali EV/EBITDA, lebih rendah dibanding rata-rata perusahaan sejenis di pasar global.
Apabila pasar mulai menghargai AMMN mendekati valuasi peer internasional, ruang kenaikan harga saham masih terbuka lebar. Berdasarkan pendekatan EV/EBITDA maupun P/E, estimasi nilai wajar berada di rentang Rp4.500–Rp4.900 per saham untuk basis 2026, dengan potensi yang lebih tinggi lagi ketika smelter mencapai utilisasi penuh pada 2027.
Di luar prospek jangka pendek, nilai strategis AMMN juga berasal dari kualitas asetnya. Selain Batu Hijau sebagai salah satu tambang tembaga-emas terbesar di Indonesia, perusahaan juga memiliki proyek Elang yang termasuk salah satu cadangan porphyry copper-gold terbesar yang belum dikembangkan di dunia.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Ketergantungan terhadap harga tembaga dan emas masih sangat tinggi, sementara perubahan regulasi sektor minerba, eksekusi proyek Elang, stabilitas operasional smelter, dan potensi tekanan indeks global lainnya tetap menjadi faktor yang dapat memengaruhi kinerja maupun valuasi saham.
Setelah melewati tahun transisi yang berat dan tekanan teknikal dari arus keluar indeks global, fokus pasar kini perlahan bergeser kembali ke fundamental. Pertanyaannya bukan lagi apakah AMMN mampu pulih, melainkan seberapa cepat pasar akan mengakui pemulihan tersebut melalui re-rating valuasi.