IHSG Ambruk ke Level Terendah Sejak 2021, Rupiah Cetak Rekor Pelemahan Baru
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 4,11% ke level 5.941 pada perdagangan Rabu (3/6), sekaligus menandai posisi penutupan terendah sejak Mei 2021. Dengan koreksi tersebut, IHSG kini telah kehilangan sekitar 31,3% sejak awal tahun (YTD), menjadikannya indeks saham dengan performa terburuk di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau Bloomberg.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham berkapitalisasi besar, terutama BBCA yang turun 5,15%, BBRI melemah 4,61%, AMMN anjlok 14,91%, TLKM terkoreksi 3,39%, dan BMRI turun 2,88%.
Secara sektoral, aksi jual paling signifikan terjadi pada saham komoditas dan konglomerasi. Sektor basic materials merosot 9,05%, sementara sektor energi melemah 5,61%. Investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih (net foreign sell) senilai Rp993,3 miliar di pasar reguler.
Di pasar valuta asing, tekanan terhadap aset domestik turut tercermin dari pelemahan rupiah. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,63% ke level Rp17.950 per dolar AS, mencetak rekor terendah sepanjang sejarah. Sejak awal tahun, rupiah telah terdepresiasi sekitar 7,5%, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia berdasarkan data Bloomberg.
Sentimen negatif yang membayangi pasar domestik dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Di pasar energi global, harga minyak Brent kembali mendekati level psikologis US$100 per barel setelah menguat selama tiga hari berturut-turut dan mencapai US$98,9 per barel pada Rabu sore. Kenaikan harga dipicu ketidakpastian terkait keberlanjutan gencatan senjata AS-Iran serta risiko gangguan jalur perdagangan di Selat Hormuz. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia menghadapi risiko pelebaran defisit fiskal apabila harga energi bertahan tinggi dalam jangka panjang.
Dari sisi makroekonomi, data terbaru menunjukkan melemahnya kinerja perdagangan luar negeri. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 tercatat hanya US$90 juta, turun tajam dari surplus US$3,3 miliar pada Maret dan jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar US$1,35 miliar. Angka tersebut menjadi surplus terendah sejak Indonesia terakhir kali mencatat defisit pada April 2020.
Pada saat yang sama, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2026 mencapai 3,08% secara tahunan, meningkat dari 2,42% pada bulan sebelumnya dan sedikit melampaui ekspektasi konsensus sebesar 2,98%. Meski masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 2,5% ±1%, kenaikan inflasi di tengah pelemahan rupiah memunculkan kekhawatiran terhadap ruang pelonggaran kebijakan moneter ke depan.
Sentimen juga diperburuk oleh ketidakpastian regulasi sektor komoditas. Sejumlah pelaku usaha mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan aturan teknis terkait kebijakan sentralisasi ekspor komoditas dan penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) di bank-bank Himbara.
Laporan terbaru dari China Coal Transportation and Distribution Association (CCTD) menyebutkan bahwa beberapa importir batu bara di China mulai menunda pengiriman untuk kontrak Juni 2026. Menurut analis CCTD, Ma Yanxu, ketidakjelasan implementasi kebijakan ekspor Indonesia telah memperlambat proses transaksi, meningkatkan biaya perdagangan, dan memperketat pasokan di pasar.
Dengan rupiah yang terus tertekan dan inflasi yang mulai meningkat, pasar kini memperkirakan Bank Indonesia akan menghadapi tekanan untuk kembali mengetatkan kebijakan moneternya. Berdasarkan konsensus Bloomberg per 3 Juni, BI Rate diproyeksikan berada di level 5,50% pada akhir 2026, yang mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dari level saat ini.