Energi Tertekan, Big Banks Menopang IHSG di Tengah Tekanan Rupiah

Oleh : Candra Mata | Selasa, 26 Mei 2026 - 09:35 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Harga minyak Brent terkoreksi tajam sekitar -5,3% ke kisaran US$94,9/barrel pada perdagangan Senin (25/5) sore, dipicu optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan AS–Iran untuk mengakhiri konflik geopolitik. Namun, sentimen tersebut sedikit tertahan setelah Presiden Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak ingin “terburu-buru” menyelesaikan kesepakatan yang menurutnya “bahkan belum sepenuhnya dinegosiasikan.”

Di tengah pelemahan harga minyak — yang secara teoritis seharusnya menjadi sentimen positif bagi negara importir energi seperti Indonesia — rupiah justru kembali tertekan. Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level 17.743 per dolar AS (-0,19%), mencetak level penutupan terlemah sepanjang sejarah dan mendekati rekor intraday 17.760 yang tercatat pada Rabu (20/5), tepat sebelum Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 bps.

Sementara itu, IHSG berhasil ditutup menguat +0,72%, ditopang rebound saham-saham big caps perbankan dan konglomerasi seperti BBRI (+3,93%), BBCA (+3,39%), ASII (+3,70%), dan BMRI (+2,43%).

Sebaliknya, sektor energi kembali terkoreksi -2,04%, melanjutkan pelemahan mingguan sebelumnya sebesar -11,58%. Tekanan pada sektor ini diperkirakan masih berkaitan dengan overhang kebijakan sentralisasi ekspor komoditas. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan bahwa aturan pelaksana terkait kebijakan tersebut ditargetkan rampung hari ini, setelah sebelumnya sempat dijadwalkan terbit pada Jumat (22/5).

Meski IHSG menghijau, aliran dana asing masih menunjukkan tekanan. Pasar saham mencatat net foreign outflow sebesar Rp2,2 triliun pada perdagangan hari ini. Di pasar obligasi, yield SUN tenor 10 tahun memang telah turun dari 6,78% menjadi 6,68% pasca kenaikan BI Rate, tetapi hal tersebut belum cukup menopang stabilitas rupiah. Sebagai catatan, pasar obligasi masih mencatat outflow Rp1,4 triliun sepanjang pekan lalu, meski secara bulanan masih membukukan inflow Rp8,1 triliun per Selasa (19/5).

Pelemahan rupiah di tengah koreksi harga minyak memperlihatkan bahwa perhatian pasar saat ini tidak lagi semata tertuju pada faktor eksternal. Fokus investor tampaknya mulai bergeser ke risiko domestik, terutama terkait implementasi sentralisasi ekspor komoditas, arah pengelolaan fiskal, serta potensi tambahan outflow menjelang rebalancing indeks MSCI dan FTSE pada Juni mendatang.

Ke depan, pasar akan mencermati finalisasi aturan teknis sentralisasi ekspor, respons lanjutan Bank Indonesia terhadap tekanan nilai tukar, serta dampak rebalancing MSCI dan FTSE — efektif masing-masing pada 1 Juni 2026 dan 22 Juni 2026 — yang diperkirakan berpotensi memicu penyesuaian portofolio pada saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) maupun non-HSC.