BEI Perketat Seleksi Indeks: Saham HSC Terancam Tersingkir, BREN & DSSA di Ujung Tanduk?

Oleh : Candra Mata | Kamis, 23 April 2026 - 08:23 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Bursa Efek Indonesia tampaknya tengah merapikan ulang “gerbang seleksi” bagi saham-saham unggulan. Melalui penyesuaian terbaru, kriteria evaluasi konstituen IDX30, LQ45, dan IDX80 kini dibuat lebih adaptif, namun sekaligus lebih selektif.

Salah satu perubahan paling mencolok adalah dikeluarkannya saham-saham yang masuk dalam daftar high shareholding concentration (HSC) dari universe indeks. Artinya, emiten dengan kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi tak lagi mendapat tempat di indeks-indeks utama, mempertegas pentingnya likuiditas dan distribusi kepemilikan di pasar.

Di sisi lain, BEI memberi sedikit ruang napas pada aspek likuiditas harian. Jika sebelumnya saham harus aktif diperdagangkan setiap hari tanpa jeda selama enam bulan, kini diberikan toleransi—maksimal satu hari tidak ditransaksikan dalam periode tersebut.

Ketentuan free float pun diperketat secara dinamis. Batas minimum kini mengikuti angka yang lebih tinggi antara 10% atau standar baru dalam Peraturan I–A BEI, menandakan dorongan untuk meningkatkan kualitas free float di pasar.

Seluruh penyesuaian ini akan mulai tercermin pada evaluasi mayor April 2026, dan efektif berlaku sejak hari pertama perdagangan di Mei 2026.

Langkah BEI ini sejalan dengan arah global. Beberapa hari sebelumnya, MSCI juga mengambil sikap serupa dengan menyatakan bahwa saham Indonesia yang masuk daftar HSC akan dikeluarkan dari indeks mereka—kebijakan yang telah lebih dulu diterapkan di pasar seperti Hong Kong.

Dalam konteks ini, Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang saat ini masih menghuni LQ45 dan IDX80 berada di zona rawan. Jika benar terdepak pada Mei 2026, potensi tekanan dari arus keluar dana pasif menjadi risiko yang tak bisa diabaikan.

Sementara itu, tujuh saham lain ROCK, IFSH, SOTS, AGII, MGLV, LUCY, dan RLCO masih harus “menunggu di luar pagar”. Selama status HSC melekat, peluang mereka untuk masuk ke indeks mayor praktis tertutup.

Perubahan ini mengirimkan pesan yang jelas: likuiditas, distribusi kepemilikan, dan kualitas pasar kini menjadi standar utama, bukan sekadar kapitalisasi.