BMRI Prioritaskan Dividen di Tengah Ketidakpastian Global, Yield Berpotensi 8,1%
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Manajemen Bank Mandiri (BMRI) dalam pertemuan pada Senin (30/3) menyampaikan bahwa ketidakpastian geopolitik global mendorong perseroan untuk lebih berhati-hati dalam ekspansi, sekaligus membuka peluang peningkatan pengembalian modal kepada pemegang saham.
Hal ini tercermin dari potensi dividend payout ratio yang berada di kisaran lebih tinggi, dengan guidance sebesar 70–80%, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan pemegang saham.
Dengan asumsi payout ratio mencapai 80%, dividen final tahun buku 2025 diperkirakan sebesar Rp383 per saham, yang setara dengan yield sekitar 8,1% berdasarkan harga saham Rp4.710 per Selasa (31/3).
Di sisi operasional, BMRI menargetkan peningkatan Return-on-Equity (ROE) ke kisaran 21–23% (dibandingkan 2025: 20%). Setelah berhasil memperbaiki fundamental pasca-Covid melalui penguatan risk management dan efisiensi operasional (opex), ke depan perseroan akan fokus pada dua area utama: pengembangan merchant transactions untuk memperkuat dana murah (CASA), serta ekspansi wealth management.
Namun demikian, kondisi eksternal yang lebih menantang membuat BMRI mengambil pendekatan lebih konservatif, terutama dalam penyaluran kredit dan peningkatan pencadangan kredit bermasalah (provisioning).
Risiko tambahan juga datang dari potensi tingginya harga energi dalam jangka panjang, yang dapat menekan likuiditas perbankan dan margin, terutama jika regulator mengambil langkah untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah.
BMRI sendiri belum memberikan revisi terhadap target 2026, sehingga pelaku pasar masih menunggu kejelasan lebih lanjut dalam earnings call kinerja 1Q26 yang dijadwalkan pada pekan ke-3 atau ke-4 April 2026.
Sebagai pengingat, berikut guidance 2026 yang telah disampaikan:
• Loan growth: +7–9% (vs. 2025: +13%)
• Net Interest Margin (NIM): 4,6–4,8% (vs. 2025: 4,9%)
• Cost of Credit (CoC): 0,6–0,8% (vs. 2025: 0,6%)