Dari Aie Tabik Payakumbuh ke Istana Negara: Jejak Minangkabau dalam Kiprah Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc. kembali dipercaya negara. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ia dilantik sebagai Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan dalam Kabinet Merah Putih. Jabatan ini menegaskan posisinya sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam lanskap hukum dan ketatanegaraan Indonesia.
Namun, di balik reputasinya sebagai raksasa hukum tata negara, tersimpan kisah menarik tentang akar budaya dan jati diri. Yusril Ihza Mahendra ternyata memiliki darah Minangkabau yang kuat, khususnya dari Aie Tabik, Payakumbuh, Sumatera Barat, sebuah warisan yang turut membentuk karakter intelektual dan prinsip hidupnya.
Akar Minang Sang Begawan Hukum
Meski lahir di Belitung pada 5 Februari 1956, Yusril adalah putra dari pasangan Idris bin Haji Zainal Abidin dan Nursiha binti Jama Sandon. Jika sang ayah memiliki silsilah hingga ke Johor, maka dari pihak ibu, darah Minangkabau mengalir kental dalam dirinya. Nursiha merupakan putri asli Aie Tabik, Payakumbuh.
Keluarga besar dari garis ibu dikenal sebagai perantau Minang yang berpindah dari Ranah Minang ke Kampar, sebelum akhirnya menetap di Pulau Belitung. Tradisi merantau, kecintaan pada ilmu, serta kecakapan berargumentasi, ciri khas masyarakat Minangkabau tumbuh dan bersemi dalam perjalanan hidup Yusril.
Nilai filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” seakan menjadi benang merah yang menghubungkan latar budaya Minang dengan keteguhan prinsip dan kejernihan berpikir yang ia tunjukkan sepanjang kariernya.
Maestro Hukum dan Arsitek Pidato Presiden
Yusril Ihza Mahendra bukan sekadar akademisi. Ia adalah arsitek pemikiran hukum negara yang bekerja di balik layar sejarah Indonesia modern. Sejarah mencatat namanya sebagai penulis pidato untuk tiga Presiden Republik Indonesia: Soeharto, B.J. Habibie, dan Susilo Bambang Yudhoyono.
Salah satu momen paling monumental adalah keterlibatannya dalam penyusunan teks pengunduran diri Presiden Soeharto pada 1998, sebuah dokumen yang menandai berakhirnya satu era dan lahirnya reformasi. Hingga kini, lebih dari 500 naskah pidato kepresidenan telah lahir dari pemikiran dan ketajaman analisisnya.
Pengalaman Panjang, Tanggung Jawab Besar
Pengalaman Yusril di pemerintahan terbilang lengkap dan lintas zaman. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Hukum dan Perundang-undangan, Menteri Kehakiman, hingga Menteri Sekretaris Negara. Rekam jejak panjang ini menjadikannya salah satu figur paling senior dan berpengalaman di kabinet saat ini.
Kini, sebagai Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril memegang peran strategis dalam memastikan supremasi hukum, keadilan, serta kepastian hukum di Indonesia. Jabatan ini menuntut kebijaksanaan, keteguhan prinsip, dan kedalaman pemahaman hukum, kualitas yang telah lama melekat pada dirinya.
Inspirasi Anak Perantau
Kisah hidup Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra adalah cermin bahwa anak perantau dengan pegangan nilai luhur dan pendidikan yang kuat mampu mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Dari keluarga besar di Belitung, dengan akar budaya yang tertanam kuat di Payakumbuh, ia menjelma menjadi salah satu penentu arah hukum nasional.
Jejaknya menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia, khususnya anak-anak Minangkabau dan para perantau: bahwa identitas budaya, jika dirawat dan dipadukan dengan ilmu pengetahuan, dapat menjadi kekuatan besar dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.