Lantik Dewan Pengurus Asaki, Menperin Agus Pede Industri Keramik Nasional Tembus 4 Besar Dunia
INDUSTRY.co.id - Jakarta - Industri keramik nasional menunjukkan kinerja gemilang di tengah perlambatan industri keramik global. Saat produksi dunia mengalami penurunan hingga 25 persen, Indonesia justru mencatatkan pertumbuhan signifikan. Hal ini terungkap dalam acara Pelantikan Dewan Pengurus ASAKI (Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia) Periode 2026–2029 yang dihadiri langsung oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.
Menperin Agus menegaskan bahwa kehadiran pemerintah dalam mendukung industri keramik nasional menjadi kunci utama keberhasilan tersebut. ASAKI dinilai sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat fondasi industrialisasi nasional, khususnya di sektor industri bahan bangunan.
“Industri keramik memiliki peran strategis dalam mendukung sektor properti dan konstruksi. Ketika sektor riil tumbuh, industri keramik akan menjadi salah satu penggerak utama,” ujar Menperin saat melantik Dewan Pengurus Asaki Periode 2026-2029 di Jakarta, Selasa (3/2).
Saat ini, kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional mencapai 650 juta meter persegi per tahun dengan tingkat utilisasi sekitar 73 persen pada 2025 dan menyerap tidak kurang dari 150 ribu tenaga kerja. Pemerintah dan pelaku industri optimistis Indonesia mampu menembus peringkat 4 besar produsen keramik dunia.
Berbagai kebijakan strategis telah dikeluarkan pemerintah untuk memperkuat daya saing industri, mulai dari Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) USD 7 per MMBTU, pemberlakuan SNI wajib, hingga instrumen pengamanan perdagangan seperti safeguard dan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap produk impor.
Menperin Agus berharap Dewan Pengurus ASAKI yang baru dapat menjadi mitra strategis dalam perumusan kebijakan industri yang berbasis data, berorientasi jangka panjang, serta mampu membawa industri keramik nasional naik kelas menuju Indonesia Emas 2045.
Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah yang dinilai konsisten dan pro-industri. Menurutnya, ASAKI telah menyiapkan roadmap tiga tahun ke depan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan penciptaan lapangan kerja.
“Utilisasi industri keramik tahun lalu mencapai 73 persen, dan tahun ini kami menargetkan 80 persen. Jika program 3 juta rumah terealisasi, utilisasi bisa melonjak hingga 90 persen,” jelas Edy.
Ia juga melaporkan bahwa kapasitas terpasang industri keramik akan terus meningkat, dari 650 juta meter persegi menjadi 672 juta meter persegi pada 2026, dan diproyeksikan mencapai 701 juta meter persegi pada 2028.
Data World Ceramic Tile Forum (WCTF) menunjukkan produksi keramik dunia mencapai puncaknya pada 2021 sebesar 15 miliar meter persegi, namun turun menjadi 11,3 miliar meter persegi pada 2024. Sebaliknya, produksi keramik Indonesia justru meningkat dari 410 juta meter persegi menjadi 475 juta meter persegi, atau tumbuh sekitar 15 persen.
“Kami ditanya oleh asosiasi internasional, kenapa Indonesia bisa tumbuh saat dunia turun. Jawabannya satu: karena pemerintah hadir,” tegas Edy.
Pemerintah juga mengandalkan kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) serta penerapan TKDN melalui Permenperin Nomor 35 Tahun 2025 untuk memperluas penyerapan produk keramik nasional, khususnya dalam proyek pemerintah, BUMN, infrastruktur, hingga program strategis seperti 3 juta rumah, sekolah rakyat, dan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Dengan konsumsi keramik nasional yang masih di angka 2,5 meter persegi per kapita, jauh di bawah negara ASEAN lain, peluang ekspansi pasar domestik dinilai masih sangat besar," ungkap Edy.