Pariwisata Indonesia Menuju 30 Besar Dunia

Oleh : Kormen | Sabtu, 19 Agustus 2017 - 09:41 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pemerintah mengajak brand perusahaan besar, menengah, maupun kecil di seluruh Tanah Air untuk melakukan kolaborasi melalui co-branding partnership dengan brand  Wonderful Indonesia atau Pesona Indonesia dalam rangka mensukseskan target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2019.

Daya saing pariwisata Indonesia diproyeksikan akan naik 12 peringkat berada di posisi 30 besar dunia pada 2019 dan betul-betul akan diperhitungkan di tingkat  dunia.

Artinya Indonesia menjadi destinasi penting dunia dan pariwisata menjadi industri strategis dan menjadi core economy Indonesia.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya saat menjadi keynote speech dalam Wonderful Indonesia Co-branding Forum (WICF) yang berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), pekan lalu, mengatakan, untuk melesatkan lagi peringkat TTCI ke posisi 30 besar dunia, Indonesia perlu melakukan inovasi-inovasi lebih lanjut dalam melakukan brand building dengan meluncurkan inisiatif co-branding partnership.

Karena dengan modal brand equity yang kokoh tersebut Kemenpar cukup percaya diri bahwa brand Wonderful Indonesia (WI) / Pesona Indonesia (PI) mampu memberikan value bagi brand-brand yang diajak co-branding sehingga tercipta kerjasama yang saling menguntungkan (win-win partnership) dan bersifat jangka panjang.

Inisiatif co-branding partnership ini dilakukan Kemenpar untuk mencapai 3 tujuan strategis yaitu; Pertama, untuk mendongkrak brand equity dari brand  WI di pasar global dan brand PI di pasar domestik dalam menopang terwujudnya sektor pariwisata sebagai core economy Indonesia.

Dengan co-branding partnership diharapkan terjadi sinergi dan leverage effect’ dalam mendongkrak value kedua brand.

Kedua, mengembangkan penetrasi pasar dan memperluas exposure brand WI/PI dengan memanfaatkan market network yang dimiliki oleh brand/perusahaan baik di pasar domestik maupun gbal.

Melalui co-branding partnership ini diharapkan brand WI/PI dan brand/perusahaan dapat saling memanfaatkan customer base masing-masing.

Ketiga, dengan co-branding partnership akan terwujud sharing resources antara kedua brand yang ber-cobranding. Co-branding akan menghasilkan penghematan biaya promosi yang substansial karena dengan berpartner maka biaya promosi akan ditanggung secara bersama.

“Anggaran dari APBN terbatas, karena itu kami ingin berkolaborasi dengan brand/perusahaan agar terjadi efisiensi biaya promosi,” kata Arief Yahya.

Sesungguhnya co-branding partnership ini selama ini, menurut Arief Yahya, sudah berjalan walaupun masih sangat terbatas dan tidak sistematis.

Contohnya tahun lalu Kemenpar melakukan co-branding partnership dengan Martha Tilaar Group (MTG) melalui program Trend Warna Sariayu 2017: “Gili Lombok”.

Di sini logo WI tampil di kemasan produk. Tema Lombok diambil karena merupakan salah satu dari 10 destinasi prioritas yang dicanangkan Kemenpar.

Contoh lain adalah kampanye iklan terbaru Kuku Bima dari Sido Muncul di tahun 2017 ini yang mempromosikan “Danau Rawa Pening” menjadi destinasi wisata  kelas dunia.

Walaupun kerjasamanya masih bersifat informal dan masih terbatas, namun di dalam iklan tersebut brand PI sudah tampil di dalam materi iklan Kuku Bima tersebut.

Dengan adanya inisiatif co-branding partnership ini, diharapkan kolaborasi dan sinergi brand WI/PI dengan brand/perusahaan di seluruh Tanah Air akan semakin intensif lagi dan diharapkan partisipasi brand/perusahaan dalam mempromosikan sektor pariwisata juga akan semakin besar lagi.

Brand (perusahaan) yang melakukan MoU co-branding partnership dengan Kemenpar  antara lain; Martha Tilaar, JJ Royal, Polygon, Sahid Group, Tiket.com, Alleira Batik & Gaia, Sunpride, Sarinah, Rumah Zakat, Sekar Group, Krisna Oleh-Oleh, Secret Garden, Sababay Wine, Bon Gout, Achilles, Garuda Food, Dapur Solo, dan Malang Strudel. (Kormen)

Kormen Lihat semua artikel →