Jababeka Tawarkan Solusi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi dan Tantangan Global

Oleh : Hariyanto | Selasa, 03 Juni 2025 - 14:15 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta — Di tengah tantangan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik yang membayangi dunia usaha, PT Jababeka Tbk (KIJA) melihat peluang besar untuk pertumbuhan dan transformasi industri. Direktur Utama PT Jababeka Tbk, Setyono Djuandi Darmono, menegaskan bahwa situasi penuh tekanan ini justru menjadi momen bagi pengusaha untuk berpikir strategis dan bertindak progresif.

“Setiap masalah membawa peluang. Sebagai pengusaha, kita harus tetap optimistis dan mencari celah-celah baru untuk meningkatkan kinerja dan memperluas jaringan bisnis,” ujar Darmono dalam wawancara khusus bersama CNBC Indonesia, Senin (2/6/2025).

Salah satu peluang besar yang ditangkap Jababeka adalah gelombang relokasi industri dari Tiongkok akibat ketegangan perdagangan dan geopolitik antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan manufaktur asal Tiongkok kini mencari basis produksi baru, dan kawasan Asia Tenggara—khususnya Indonesia—muncul sebagai tujuan utama.

“Permintaan cukup besar, terutama dari Tiongkok. Banyak perusahaan ingin memindahkan operasinya karena situasi dengan Amerika. Dari seluruh kawasan, mereka melihat Indonesia sebagai negara yang paling menarik karena potensi pasar, tenaga kerja, dan posisi geografisnya,” kata Darmono.

Namun, ia menyoroti bahwa hambatan utama saat ini adalah ketersediaan lahan industri siap pakai (ready-to-build land). Di tengah keterbatasan ini, Jababeka telah mempersiapkan pengembangan kawasan industri baru di Jawa Tengah, yakni Kawasan Industri Kendal, hasil kolaborasi antara Indonesia dan Singapura.

“Kami sejak awal melihat potensi besar di Jawa Tengah, di mana tenaga kerja dan harga lahan masih kompetitif. Infrastruktur di Semarang juga sangat lengkap—ada pelabuhan, bandara internasional, jalan tol, sumber daya air, listrik, gas, internet, dan SDM yang memadai,” jelasnya.

Jababeka mengembangkan kawasan industri berbasis ekosistem terpadu dengan infrastruktur pendukung seperti pembangkit listrik mandiri, instalasi pengolahan air bersih, dan akses langsung ke jalan tol. Contohnya, Kota Jababeka di Cikarang, yang kini telah menjadi rumah bagi lebih dari 2.000 tenant dari berbagai negara sejak didirikan pada 1989.

Lebih lanjut, Jababeka juga tengah meningkatkan kapasitas pelabuhan kering (dry port) Cikarang untuk mendukung efisiensi logistik nasional.

Strategi Ekspansi ke Luar Jawa dan Potensi Morotai

Darmono juga mendorong agar pelaku usaha dan pemerintah mulai melirik wilayah di luar Pulau Jawa, mengingat keterbatasan dan tingginya harga lahan di wilayah Jawa. Namun, ia menekankan perlunya regulasi dan insentif khusus agar investor bersedia masuk ke luar Jawa.

“Lahan di Jawa makin terbatas dan mahal. Untuk menarik investor ke luar Jawa, regulasi dan infrastruktur harus diperkuat,” ucap Darmono.

Ia menyebut Pulau Morotai sebagai contoh wilayah yang memiliki nilai strategis tinggi dan telah dikembangkan oleh Jababeka sejak satu dekade lalu. Lokasinya yang dekat dengan pasar Asia Timur—seperti Tiongkok, Jepang, Korea, dan Taiwan—menjadikannya sangat potensial untuk dijadikan hub logistik.

“Dari sisi lokasi, Morotai sangat strategis. Tapi infrastrukturnya belum memadai. Kalau kita bisa bangun pusat logistik seperti Singapura—dikelola dengan otoritas yang kuat—Morotai bisa menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia Timur,” jelas Darmono.

Menurutnya, kunci pengembangan wilayah seperti Morotai terletak pada kejelasan otoritas pengelola dan insentif jangka panjang untuk infrastruktur. Ia juga menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur memang membutuhkan biaya besar dan waktu pengembalian investasi yang lama, sehingga kepastian regulasi menjadi faktor penentu.

Peluang Perdagangan dengan Amerika Serikat

Terkait dampak kebijakan tarif tinggi dari Amerika Serikat terhadap perdagangan global, Darmono menilai situasi ini justru dapat dimanfaatkan Indonesia sebagai peluang untuk memperluas pasar ekspor.

“Produk ekspor Indonesia ke Amerika adalah barang-barang yang mereka butuhkan dan tidak secara langsung bersaing dengan produk dari Tiongkok. Volume ekspornya juga relatif kecil, sehingga masih ada ruang untuk diperbesar,” jelas Darmono.

Ia mengapresiasi respons cepat pemerintah, khususnya Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dalam menjembatani peluang ekspor Indonesia ke pasar Amerika.

“Pemerintah kita tanggap. Pak Airlangga langsung turun tangan, melakukan negosiasi dan diplomasi ekonomi. Kita tinggal melihat peluang dari switching perdagangan—misalnya barang yang sebelumnya dari Tiongkok bisa dialihkan ke Indonesia, selama kita siap menyuplai dengan kualitas dan kecepatan,” ujarnya.

Kolaborasi Internasional dan Daya Saing Nasional

Sebagai bagian dari penguatan daya saing industri nasional, Jababeka juga menjalin kerja sama internasional, salah satunya dengan Korea Indonesia Management Association (KIMA). Darmono, yang juga menjabat sebagai Ketua KIMA, aktif mengajak pelaku usaha Korea untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan ekspansi bisnis di kawasan ASEAN.

“Kami terus membuka pintu kolaborasi dengan mitra internasional, termasuk Korea. Indonesia memiliki potensi luar biasa yang harus terus diperkenalkan secara strategis kepada dunia,” tutup Darmono.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →