RI Bakal Contek Malaysia, Vietnam Hingga Thailand Soal Harga Gas Murah untuk Industri

Oleh : Ridwan | Minggu, 06 Agustus 2023 - 19:05 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pemerintah akan mengevaluasi biaya produksi gas bumi tertentu (HGBT), salah satunya dengan melakukan perbandingan dengan harga gas di Malaysia yang jauh lebih murah dibanding Indonesia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menilai, secara bisnis produksi minyak dan gas (migas) di tiap lapangan berbeda. Menurutnya, hal itu juga turut mempengaruhi ongkos dan faktor lainnya.

Dalam hal ini, Malaysia bisa menetapkan harga gas lebih rendah daripada HGBT untuk 7 sektor industri di Tanah Air senilai USD 6 per MMBTU.

"Nah kita benchmark dengan misalnya harga gas di malaysia variannya angkanya tiga sampai USD 6- 7. Di Malaysia kan memang tidak seluas kita, kemudian sumber gasnya banyak di Sarawak dekat Kalimantan utara. Sekarang sedang dipelajari bagaimana bisa mendapatkan mengatur pada range yang demikian," kata Arifin di Jakarta, kemarin.

Menteri ESDM juga membuka peluang memperluas insentif HGBT senilai USD 6 per MMBTU. Hal ini guna manarik investasi masuk ke Indonesia.

Namun, pemanfaatan HGBT di 7 industri tersebut masih di bawah 85 persen. Dengan kondisi tersebut, Arifin mengatakan pemerintah akan mengoptimalkan pemanfaatan harga gas industri tersebut dengan memperluas sektor industri.

"Masih ada permintaan industri lain untuk bisa mendapatkan itu, tapi menurut catatan kita dari alokasi untuk 7 industri ini yang memanfaatkannya ini 85 persen, belum optimal. Jadi dari seluruh volume yang dialokasikan ini yang akan kita optimalkan dulu,” ujar Arifin.

“Ya mungkin kita extend ke industri sejenis yang belum bisa mendapatkan sehingga bisa mentok tuh alokasinya yang 100 persen,” tambahnya.

Tak hanya Malaysia, Pemerintah RI juga bakal mencontek penetapan harga gas murah di negara tetangga lain.

"Kita juga kaji Thailand, Vietnam kita akan kaji," kata Arifin.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →