Terbang Ke Korsel, Menperin Tagih Realisasi Investasi di Sektor Industri

Oleh : Ridwan | Senin, 03 Juli 2017 - 14:49 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Seoul, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto hari ini melakukan kunjungan kerjanya ke Korea Selatan. Pada kesempatan tersebut, Menperin didampingi oleh Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kemenperin, Achmad Sigit Dwiwahjono serta Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan.

Selama di Korea Selatan, agenda Menperin meliputi, pertemuan bisnis dengan jajaran direksi Lotte dan LG, menjadi pembicara pada kegiatan ASEAN Leadership Confrence, serta mengunjungi pabrik baja Posco.

"Hubungan kerja sama ekonomi khususnya di sektor industri antara Indonesia dengan korea Selatan patut diperkuat," ungkap Menperin, Airlangga Hartarto melalui keterangan tertulisnya di Seoul, Korea Selatan (3/7/2017).

Ia manambahkan, pihaknya tengah membidik investor Korea Selatan yakni Lotte Chemical Titan agar segera merealisasikan penanaman modalnya sebesar USD 3-4 miliar yang akan memproduksi naphtha cracker dengan total kapasitas sebanyak 2 juta ton per tahun.

"Bahan baku kimia tersebut diperlukan untuk manghasilkan ethylene, propylene, dan produk turunan lainnya," terangnya.

Seperti diketahui, Kementerian Perindustrian tengah memfokuskan industri petrokimia sebagai salah satu sektor yang diprioritaskan pembangunannya di dalam negeri. Karena berperan penting sebagai pamsok bahan baku bagi banyak manufaktur hilir seperti industri plastik, cat, kosmetika hingga farmasi.

Selain itu, Kemenperin juga telah mengusulkan agar industri petrokimia termasuk sektor yang perlu mendapatkan penurunan harga gas. "Dengan harga gas yang kompetitif, daya saing industri petrokimia nasional makin meningkat," ucap Airlangga.

Disamping itu, sektor strategis lainnya yang sedang dipacu pengembangannya di Indonesia adalah industri baja. Upaya ini untuk mendorong pembangunan kalster industri baja di Cilegon, Banten yang akan memproduksi 10 juta ton baja pada tahun 2025.

"PT Krakatau Steel (KS) dan perusahaan baja asal Korea selatan, Posco telah berkomitmen untuk mendukung pembangunan klaster 10 juta ton baja tersebut," imbuhnya.

Saat ini, kapasitas produksi PT KS digabungkan dengan PT Krakatau Posco yang merupakan perusahaan patungan PT KS dengan Posco di Cilegon telah mencapai 4,5 juta ton, dan segera meningkat dengan beroperasinya pabrik HSM#2 yang berkapasitas 1,5 juta ton pada akhir tahun 2019, sehingga total akan mencapai 6 juta ton.

"Artinya, hanya perlu menambah 4 juta ton untuk mencapai proyek 10 juta ton dari klaster tersebut," kata Menperin.

Berdasarkan catatan BKPM, Korea Selatan adalah investor nomor tiga terbesar di Indonesia. Di sektor industri manufaktru, perusahaan-perusahaan Korea Selatan berkontribusi hingga 71 persen dari total investasi selama lima tahun terakhir sebesar USD 7,5 miliar.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →