Konflik Timur Tengah Picu Risiko Tidak Langsung bagi Perdagangan RI, Ekspor Diproyeksi Tetap Tumbuh

Oleh : Hariyanto | Senin, 30 Maret 2026 - 13:53 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Eskalasi konflik di Timur Tengah dinilai berpotensi meningkatkan volatilitas harga energi global serta biaya logistik perdagangan internasional. Namun demikian, dampak langsung terhadap perdagangan Indonesia diperkirakan relatif terbatas karena eksposur perdagangan dengan kawasan tersebut masih kecil.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Indonesia Eximbank Institute menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total ekspor nasional. Komoditas utama yang dikirim meliputi minyak kelapa sawit, perhiasan, serta kendaraan bermotor. Sementara itu, impor Indonesia dari kawasan tersebut mencapai sekitar 3,9% dari total impor nasional dan didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak. Struktur ini mencerminkan bahwa keterkaitan perdagangan langsung Indonesia dengan kawasan konflik relatif terbatas.

Sebaliknya, risiko utama justru datang dari kanal tidak langsung, seperti kenaikan harga energi global, volatilitas nilai tukar, hingga potensi perlambatan aktivitas industri di negara mitra dagang utama. Kondisi tersebut dapat memengaruhi permintaan terhadap ekspor Indonesia.

Secara geografis, mayoritas ekspor Indonesia masih mengalir ke kawasan lain, yakni Asia Timur sebesar 36,4%, Asia Tenggara 20,8%, Amerika Utara 11,5%, Asia Selatan 9,6%, dan Eropa Barat 5,7%. Dengan demikian, dinamika ekonomi di kawasan-kawasan tersebut tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan kinerja ekspor nasional.

Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani menegaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan konflik, khususnya terkait stabilitas jalur energi global. “Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” ujar Rini.

Kawasan Timur Tengah memiliki peran strategis dalam sistem energi global dengan kontribusi lebih dari 30% terhadap produksi minyak dunia. Selain itu, sekitar 20–30% perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan pada jalur ini dapat dengan cepat memicu kenaikan harga energi dan biaya logistik global.

Meskipun impor minyak Indonesia tidak secara langsung berasal dari Timur Tengah, dampaknya tetap terasa melalui jalur perdagangan regional. Sekitar 75% impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia yang berperan sebagai pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia. Kedua negara tersebut juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan dapat mendorong kenaikan harga energi yang dihadapi Indonesia.

Selain itu, Indonesia Eximbank Institute juga mencermati potensi dampak terhadap negara-negara pengimpor utama minyak Timur Tengah seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan. Negara-negara ini merupakan pasar ekspor penting bagi Indonesia, sehingga peningkatan biaya energi berpotensi menekan aktivitas industri dan berdampak pada permintaan produk ekspor nasional.

Jika ketegangan geopolitik berlangsung dalam jangka waktu panjang, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan bergerak di kisaran USD85–120 per barel, meningkat dibandingkan rata-rata awal tahun yang berada di sekitar USD60 per barel. Kenaikan ini berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global.

Bagi eksportir Indonesia, tekanan biaya akan lebih terasa pada sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, seperti industri manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. Kenaikan biaya input berisiko menggerus margin produksi, terutama jika permintaan global turut melemah.

Di sisi lain, volatilitas pasar keuangan global juga dapat menekan nilai tukar negara emerging markets, termasuk Indonesia. Pelemahan nilai tukar akan meningkatkan biaya impor bahan baku, sehingga memperbesar tekanan bagi industri berorientasi ekspor.

Meski demikian, terdapat peluang dari kenaikan harga komoditas tertentu. Batubara, yang menyumbang sekitar 8–9% dari total ekspor nasional, berpotensi mengalami kenaikan harga. Selain itu, harga minyak kelapa sawit (CPO) juga menunjukkan tren yang relatif kuat seiring permintaan global yang tetap solid. Beberapa komoditas berbasis bahan baku lokal bahkan berpeluang meningkatkan daya saing di tengah tren penurunan suku bunga sebelumnya.

“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam,” tambah Rini.

Dengan mempertimbangkan berbagai dinamika tersebut, ekspor Indonesia pada 2026 diperkirakan masih dapat tumbuh pada kisaran 4–5%. Pertumbuhan ini bahkan berpotensi meningkat menjadi sekitar 5–6% pada 2027, dengan catatan permintaan global pulih secara bertahap serta meredanya tensi geopolitik.