RI-Rusia Makin Mesra, Wamenperin Jejaki Kerja Sama LPG hingga Nuklir Terapung
INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pemerintah Indonesia terus memperluas kerja sama industri dengan Rusia. Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menjajaki berbagai peluang investasi, mulai dari pembangunan galangan kapal hingga teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir terapung.
Langkah ini dilakukan saat menghadiri Indonesia-Russia Business & Investment Forum di St. Petersburg pada akhir April 2026. Forum tersebut menjadi bagian dari rangkaian Industrial International Exhibition (INNOPROM) 2026 yang akan digelar Juli mendatang.
"Indonesia tahun ini ditunjuk sebagai partner country INNOPROM. Menuju persiapan itu, ada business forum di St. Petersburg," ujar Faisol Riza dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Dalam forum tersebut, pelaku usaha dari kedua negara melakukan penjajakan kerja sama melalui business matching. Sejumlah sektor strategis menjadi sorotan, termasuk rencana investasi galangan kapal dan penguatan pasokan bahan baku pupuk.
PT Pupuk Indonesia, kata Riza, membuka peluang kerja sama dengan Rusia untuk memenuhi kebutuhan fosfat dan kayu sebagai bahan baku pupuk NPK.
Tak hanya itu, perusahaan energi Rusia Rosatom juga menawarkan teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir terapung. Teknologi ini memungkinkan pembangkit dibangun di laut dan disalurkan ke daratan.
"Rosatom membuat presentasi mengenai pembangkit listrik yang floating. Jadi ditempatkan di fasilitas laut yang berdekatan dengan daratan," jelasnya.
Menurut Wamenperin, konsep ini bukan hal baru karena sudah diterapkan di sejumlah negara seperti Vietnam dan Myanmar.
Di sisi lain, Indonesia juga mendorong ekspor produk industri halal ke Rusia. Dengan populasi Muslim mencapai 25 juta jiwa, pasar Rusia dinilai sangat potensial untuk produk kosmetik, fashion, serta makanan dan minuman halal.
"Produk industri halal Indonesia sangat berpeluang diterima masyarakat Muslim Rusia," ujarnya.
Selain menghadiri forum, Wamenperin juga mengunjungi St. Petersburg State University dan RusChemAlliance LLC untuk membahas kerja sama pendidikan vokasi serta pasokan energi, termasuk LNG dan LPG.
Faisol mengakui kebutuhan LPG Indonesia terus meningkat, baik untuk konsumsi maupun bahan baku industri. Rusia disebut mampu menawarkan harga yang lebih kompetitif dibanding negara lain.
"Walaupun harganya cukup mahal, mereka bisa menawarkan yang lebih kompetitif dibanding sumber lain," tambahnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia Alexei Gruzdev menegaskan komitmen negaranya untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan Indonesia. Ia menilai kemitraan jangka panjang kedua negara menjadi kunci memperluas kerja sama industri.
Sebagai informasi, forum bisnis tersebut dihadiri lebih dari 100 peserta dari kalangan pemerintah dan pelaku usaha kedua negara, termasuk Duta Besar RI untuk Rusia serta perwakilan Pemerintah Kota St. Petersburg.