Kemendag: Sejumlah Kesepakatan Perdagangan Jadi Stimulus bagi Arus Arus Perdagangan dan Investasi

Oleh : kormen barus | Sabtu, 04 September 2021 - 05:38 WIB · 5 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta– Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kementerian Perdagangan Kasan menegaskan pentingnya pemanfaatan perjanjian kerja sama perdagangan  dengan  negara  lain  untuk  mendukung  pemulihan  ekonomi  nasional. 

Sejumlah  kesepakatan perdagangan  diharapkan  dapat  menjadi  stimulus  bagi  pemulihan  perdagangan  serta  turut  meningkatkan arus investasi di tengah pandemi Covid-19. Hal  itu  disampaikan  Kasan  saat  membuka  seminar  web  Gambir  Trade  Talk  2021  ke-2  dengan  tema

‘Strategi Pemanfaatan FTA Indonesia untuk Meningkatkan Investasi dan Perdagangan’, hari ini, Jumat
(3/9).  Turut  hadir  sebagai  narasumber  Lead  Economist  World  Bank  Washington  DC,  Michele  Ruta;  Wakil Ketua  Umum  Bidang  Maritim,  Investasi,  dan  Luar  Negeri  Kamar  Dagang  dan  Industri  Indonesia  (Kadin) Shinta  Kamdani;  Wakil  Kepala  Lembaga  Penyelidikan  Ekonomi  dan  Masyarakat  Universitas  Indonesia (LPEM-UI),  Kiki  Verico; serta Staf Ahli Bidang Ekonomi  Makro Kementerian Investasi  (BKPM),  Indra Darmawan.

“Presiden RI memberikan arahan untuk melakukan transformasi ekonomi serta mempercepat pemulihan
ekonomi melalui reformasi kebijakan investasi dan perdagangan. Kolaborasi seluruh pemangku kepentingan  mendukung  implementasi  dan  pemanfaatan  FTA  Indonesia  adalah  salah  satu  kunci  penting untuk mendukung pemulihan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia yang terdampak pandemi Covid-
19 ,” jelas Kasan.

Kegiatan  ekspor,  impor,  dan  investasi,  lanjut  Kasan,  merupakan  komponen  penting  dari  pertumbuhan ekonomi  Indonesia  di  masa  pandemi  Covid-19.  Di  tengah  penurunan  konsumsi  domestik,  ekspor  dan impor justru mencatatkan pertumbuhan yang cukup signifikan pada Triwulan II-2021, yaitu masing-masing sebesar 31,78 persen (YoY) dan 31,22 persen (YoY).

“Oleh  karena  itu,  implementasi  dan  pemanfaatan  perjanjian  kerja  sama  perdagangan  yang  telah  dimiliki Indonesia perlu terus digenjot, agar pertumbuhan ekspor saat ini tidak hanya bergantung pada kenaikan
harga komoditas,” terang Kasan.    

Menurut Lead Economist  World Bank Michele Ruta, berdasarkan hasil kajian World Bank, perkembangan implementasi  Regional  Trade  Agreements  (RTAs)  telah  meningkat  pesat  sejak  tahun  2000.  Implementasi RTA memberikan banyak manfaat di antaranya akselerasi pertumbuhan ekonomi dan ekspor, peningkatan partisipasi  dalam  rantai  nilai  global,  serta  peningkatan  penanaman  modal  asing  langsung  (foreign  direct investment).

“Perdagangan internasionalA di dunia semakin terintegrasi dari waktu ke waktu dalam hal jumlah serta isi perjanjian  kerja  sama  perdagangan,  tidak  terkecuali  Indonesia.  Manfaat  yang  diberikan  RTA  sangat  luas dan beragam terutama dalam konteks RTA yang lebih dalam. Terkait hal tersebut, World Bank mencatat penerapan  RTA  akan  berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi 2 kali lipat pada 2030,”  ungkap Michele.

Sementara, Wakil Ketua Umum Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Kadin Shinta Kamdani memaparkan, penting bagi pemerintah untuk melibatkan pelaku usaha dalam rangka negosiasi FTA. Selain itu, pemerintah dinilai juga perlu membantu para pelaku usaha dalam hal fasilitasi untuk dapat memaksimalkan pemanfaatan implementasi FTA.

“Kunci  untuk  memaksimalkan  manfaat  FTA  adalah  bagaimana  kesiapan  para  pelaku  usaha  dalam menyongsong implementasi FTA. Sosialisasi, peningkatan intelijen pasar, serta pembiayaan adalah beberapa  komponen  yang  bisa  difasilitasi  pemerintah  dalam  rangka  meningkatkan  kesiapan  para  pelaku usaha,” jelas Shinta.

Sedangkan,  Wakil  Kepala  LPEM-UI  Kiki  Verico  mengatakan,  untuk  memaksimalkan  pemanfaatan  FTA sekaligus  berpartisipasi  dalam  rantai  nilai  global,  Indonesia  perlu  mengubah  struktur  ekonominya  dari yang semula bergantung kepada komoditas, menjadi barang manufaktur yang mempunyai nilai tambah.

Staf  Ahli  Bidang  Ekonomi  Makro  Kementerian  Investasi  Indra  Darmawan  menambahkan,  kerja  sama perdagangan juga harus mendorong peningkatan investasi. Indonesia telah menjadi negara tujuan utama investasi  dunia,  bahkan  menjadi  20  besar  negara  dengan  arus  masuk  penanaman  modal  asing  langsung terbesar  di  2020.  “Realisasi penanaman modal pada Triwulan II-2021  sebesar  Rp223,0  triliun  dengan pertumbuhan  sebesar  16,2  persen  (YoY).  Pemerintah  berkomitmen  terus  menjaga  pertumbuhan  investasi beserta  realisasinya  dengan  implementasi regulasi terkait perizinan usaha dan kemudahan berbisnis,”jelas Indra. 

Pemerintah  Indonesia  saat  ini  telah  memiliki  23  kerja  sama  perdagangan,  baik  dalam  skema  bilateral maupun  regional.  Kerja  sama  perdagangan  yang  dilakukan  Indonesia  juga  tidak  hanya  dilakukan  dengan pasar  utama,  namun  juga  dilakukan  dengan  pasar  potensial  seperti  Chile,  Mozambik,  dan  terbaru  adalah dengan Uni Emirat Arab yang perundingannya baru saja diluncurkan pada 2 September 2021.

Kormen Barus

Pimpinan Redaksi

Kormen Barus adalah seorang jurnalis dan editor senior yang saat ini dikenal sebagai Pimpinan Redaksi di media portal berita nasional ⁠Industry.co.id. Ia juga memiliki rekam jejak sebagai jurnalis untuk portal Infomoneter dan Redaktur Pelaksana di Majalah Business Review. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia adalah penulis yang telah menerbitkan karya di bidang lingkungan, seperti buku yang berjudul "Desa Mandiri Menuju Langit Biru di Bumi Khatulistiwa

Lihat semua artikel →