Bapak Ibu Tolong Catat! Jangan Konsumsi Vitamin D Berlebihan, IDI: Sangat Berbahaya! Belum Ada Bukti Ilmiah Vitamin D Bisa Obati Covid-19
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban mengungkapkan bahwa belum ada bukti secara ilmiah bahwa suplemen vitamin D dapat bermanfaat mencegah ataupun mengobati virus Covid-19.
Tak hanya itu, Ia bahkan mengingatkan masyarakat agar berhati-hati mrngkonsumsi vitamin D dalam dosis tinggi lantaran hal tersebut sangat berbahaya bagi tubuh.
"Pada dasarnya vitamin D itu penting. Tapi asupan vitamin D yang sangat tinggi bisa berbahaya," kata Prof Zubari seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id dari keterangan yang dibagikannya di akun Tiwtter @profesorzubairi pada Jumat (27/8/2021).
"Belum ada bukti ilmiah yang kuat kalau suplemen vitamin D itu bermanfaat mencegah atau mengobati Covid-19. Jadi, jangan kampanye yang berlebihan sebelum ada bukti," sambungnya menegaskan.
Dikatakan Zubari, dirinya pernah mengulas soal isu vitamin D ini. Tapi, karena ada seorang dokter yang keracunan akibat vitamin D berlebihan, dirinya-pun merasa perlu untuk menyampaikan informasi ini kembali.
"Tentu saya juga tidak meminggirkan fakta apa yang pernah disampaikan oleh World Health Oragnization (WHO): rata-rata kadar vitamin D penduduk Indonesia cukup rendah yakni 17,2. Padahal, kadar normal vitamin D dalam tubuh itu antara 30 hingga 60 nanogram per mililiter," jelasnya.
"Tapi, bukan berarti tiap hari kita harus konsumsi suplemen vitamin D. Tetaplah konsumsi sesuai kebutuhan. Jumlah vitamin D harian yang direkomendasikan adalah 400 IU untuk anak hingga usia 1 tahun, 600 IU untuk usia 1–70 tahun, dan 800 IU untuk usia 70 ke atas," sambung Zubairi.
Untuk itu, Ia menyarankan, kalau tes kadar vitamin D yang dilakukan dengan tes darah normal, maka masyarakat tidak perlu lagi mengonsumsi suplemen.
Pasalnya, “calon vitamin D” itu sebenarnya sudah ada di bawah kulit manusia, terlebih sebagai orang Indonesia dimana memiliki iklim tropis yang sudah mendapat sinar matahari cukup sepanjang tahun.
"Sehingga, kalau tubuh kita terpapar sinar matahari sedikit saja, maka hal itu sudah mencukupi kebutuhan vitamin D," jelasnya.
"Maka, sekali lagi. Tidak perlu suplemen yang berlebihan. Ya, namanya suplemen, kan sebetulnya tidak diperlukan. Bisa juga didapat dari susu atau kuning telur," katanya kembali menegaskan.
Terakhir, menurut Zubairi, yang perlu di garis bawahi adalah hindari konsumsi suplemen vitamin D dosis tinggi. Apalagi melebihi 4 ribu IU per hari.
"Itu berbahaya, yang akan menyebabkan gangguan kesehatan. Bahkan dalam jangka panjang bisa banget merusak ginjal," kata Zubairi.
"Akibat dosis suplemen vitamin D yang berlebihan maka juga akan muncul gejala seperti muntah, mual, sakit perut, atau sariawan," pungkasnya.