Penis Manusia Menyusut karena Polusi, Ini Penjelasan Ahli Bidang Kedokteran Lingkungan

Oleh : Kormen Barus | Sabtu, 27 Maret 2021 - 08:45 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta- Temuan terbarunya ditulis dalam buku yang berjudul Count Down dilansir News Sky, Jumat (26/3),  bahwa Dr Shanna Swan, ahli bidang kedokteran lingkungan dan kesehatan masyarakat di Rumah Sakit Mount Sinai, New York City menemukan fakta penis manusia menyusut akibat paparan polusi. Temuan ini untuk memperkuat penelitian sebelumnya dilakukan di Italia pada 2017.

Seperti yang ramaikan diberitakan oleh berbagai media dan media sosial, Dr Swan membahas kekhawatiran dunia bila polusi tidak dikendalikan di masa depan akan mengancam jumlah sperma, mengubah perkembangan reproduksi pria dan wanita, dan membahayakan umat manusia.

Kekhawatiran itu berdasarkan fakta selama ini. Ia juga telah menemukan bahwa bahan kimia yang disebut ftalat menyebabkan bayi manusia lahir dengan alat kelamin yang potensi cacat.

"Akibat polusi ini, semakin banyak bayi yang lahir dengan penis kecil," tulis Dr Swan.

Penelitian Dr Swan dimulai dengan memeriksa sindrom ftalat, pengamatan pertama pada tikus. Dalam penelitian itu, ia menemukan bahwa ketika janin terpapar bahan kimia ftalat, mereka kemungkinan besar akan lahir dengan alat kelamin yang lebih kecil.

Menurut Dr Swan, bahayanya senyawa ftalat memiliki banyak kegunaan pada industri dalam membuat plastik agar lebih fleksibel. Bahan kimia itu juga digunakan untuk membuat mainan yang kemudian sangat membahayakan perkembangan manusia.

Sebab, dijelaskan Dr Swan, bahan kimia tersebut dapat mempengaruhi cara produksi hormon endokrin, mengutip Euro News.com.

Dr Swan telah mengamati kesuburan pria selama empat dekade terakhir. Setelah mempelajari 185 penelitian yang melibatkan hampir 45.000 pria yang sehat, Dr Swan dan timnya menyimpulkan bahwa jumlah sperma di antara pria di negara-negara Barat telah turun 59 persen antara tahun 1973 dan 2011.

Namun muncul harapan sejak pembentukan European Environment Agency (EEA/Badan Lingkungan Eropa), warga Eropa terpapar polusi partikulat 41 persen lebih sedikit dalam dua dekade terakhir. Hasil itu diyakini bisa menghilangkan kekhawatiran hilangnya fungsi ereksi pada pria.

"Tuntutan untuk perubahan dari warga dan kebijakan telah membantu menurunkan polusi di beberapa bagian Eropa, dan dapat terus dilakukan untuk memastikan bahwa polusi bisa diturunkan di masa depan," kata Michael Greenstone, direktur Institut Politik Energi di Universitas Chicago.

Kormen Barus

Pimpinan Redaksi

Kormen Barus adalah seorang jurnalis dan editor senior yang saat ini dikenal sebagai Pimpinan Redaksi di media portal berita nasional ⁠Industry.co.id. Ia juga memiliki rekam jejak sebagai jurnalis untuk portal Infomoneter dan Redaktur Pelaksana di Majalah Business Review. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia adalah penulis yang telah menerbitkan karya di bidang lingkungan, seperti buku yang berjudul "Desa Mandiri Menuju Langit Biru di Bumi Khatulistiwa

Lihat semua artikel →