Bapak Ibu Tolong Jangan Anggap Remeh Obesitas, IDI: Waspada, Ada Korelasi Langsung Obes dengan Risiko Kematian COVID-19
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djarboen menyatakan bahwa dari data yang ada ditemukan adanya korelasi langsung antara obesitas dan risiko kematian Covid-19.
"WASPADA: Ada korelasi langsung antara obesitas dan risiko kematian Covid-19. Dari data, orang dengan obesitas itu 74 persen lebih berisiko memerlukan penanganan ICU.," ujar Prof Zubairi seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id dari keterangan resminya di twitter @zubairidjarboen pada Senin (8/3/2021).
"Dus, angka kematiannya juga lebih tinggi 48 persen ketimbang pasien Covid-19 non obesitas. Kenapa?," sambungnya.
Dijelaskannya, Sederhananya, seseorang dikatakan obesitas itu jika IMT-nya sama dengan atau di atas 30.
IMT adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) yang merupakan salah satu cara untuk mengetahui rentang berat badan ideal atau dikenal dengan BMI (Body Mass Index).
Menurutnya, tidak sedikit juga orang yang IMT-nya mencapai 40.
"Artinya, kondisi orang itu lebih serius lagi. Jangan diremehkan," jelasnya.
Sebagai informasi, masyarakat dapat menghitung IMT di google. Coba saja ketik kalkulator BMI atau IMT. Maka akan keluar nanti hitungannya. Mudah caranya sebut Prof Zubairi.
Dikatakan lebih lanjut, kondisi berat badan berlebih atau obesitas ini menyebabkan banyak hal.
Seperti kekebalan tubuh terganggu, sistem imun tidak ideal, hiperkoagulasi (sindrom kekentalan darah) dan peradangan kronik.
Itu semua menurutnya, yang dapat menyebabkan kondisi orang dengan obesitas lebih berat dan lebih mudah meninggal jika terinfeksi Covid-19.
Selain itu, pada kasus obesitas, orang akan lebih mudah terkena macam-macam penyakit.
Seperti jantung, paru, diabetes, sindrom metabolik, darah tinggi dan banyak lagi. Sehingga, mereka akan semakin gawat jika terinfeksi virus korona.
"Apa bukti bahwa obesitas itu imunitasnya terganggu?," tanya Prof Zubairi.
Ia menerangkan, bahwa penelitian pada tikus membuktikan bahwa tikus yang obes didapati kehilangan fungsi limfosit T dan kemampuannya melawan penyakit.
Sehingga menurut Prof Zubairi kondisinya jauh lebih buruk ketimbang tikus yang tidak obes.
Sementara, kalau bukti pada manusia bisa dilihat dari pelaksanaan vaksinasi influenza di Amerika.
Dimana orang dengan obes dan sudah divaksinasi itu didapati masih mungkin mendapati influenza dua kali lebih sering ketimbang yang non obes.
"Itu faktanya," tegas Prof Zubairi Djarboen.
Tapi, ia juga paham, terkadang orang dengan obesitas ini malu. Amat malu, bahkan ssbutnya.
Pasalnya, mereka merasa mendapat stigma dari masyarakat sehingga jarang kontrol ke dokter.
"Karena nasihatnya akan selalu sama: turunkan berat badan kamu," ucapnya.
Menurut Prof Zubairi, hal tersebut tentunya menjadi beban mental untuk mereka yang obes.
Dalam beberapa kasus, pasien obesitas itu sudah berusaha menurunkan. Namun banyak yang tidak berhasil. Menurutnya, kasus seperti ini memang kerap terjadi.
Maka, menurutnya, dalam hal ini, komunikasi dokter dengan orang yang amat gemuk itu harus diperbaiki. Harus bagus. Jangan sampai si obes merasa malu.
Jika memang sungkan ke dokter, ada baiknya orang dengan obesitas ditemani sahabat atau anggota keluarga.
"Sehingga, komunikasinya nyaman dengan dokter. Kalau sudah nyaman, program penurunan berat badan yang diberikan juga bisa terlaksana dengan baik. Pasti bisa. Terima kasih," tandas Prof Zubairi.