Hai Para Perokok Siap-siap Geleng-geleng! Mensos Usulkan Harga Rokok Rp100 Ribu per Bungkus

Oleh : Ridwan | Selasa, 21 Juli 2020 - 08:17 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Perokok anak masih menjadi salah satu masalah yang dihadapi Indonesia. Solusi menarik datang dari Menteri Sosial Juliari Batubara, yang mengusulkan kenaikan harga rokok.

Mensos Juliari mengatakan, akses mendapat rokok di Indonesia masih sangat mudah. Sehingga anak di bawah 18 tahun juga bisa mendapatkan rokok tanpa kesulitan. Hal itu jadi salah satu faktor yang membuat anak-anak mudah terpapar rokok.

"Anak-anak ini simpel, mereka ingin terlihat tua, terlihat cool, keren, jadinya merokok. Selain itu, meskipun saya bagian pemerintah, akses terhadap rokok ini harus dibatasi. Bahkan di Indonesia menjual rokok secara ketengan (satuan) masih bisa," kata Juliari saat Webinar Hari Anak Nasional 2020 di Jakarta (20/7/2020).

Juliari menyarankan, proses pembelian rokok seharusnya dipersulit. Salah satunya dengan menaikan harga per satu bungkus rokok. Tujuannya, agar rokok tidak mudah diakses oleh anak-anak.

"Kalau bisa rokok harganya mahal. Satu bungkus minimal 100 ribu. Negara juga dapat cukai lumayan," usul Juliari.

Disadarinya, usulan itu bisa berdampak pemerintah mendapat protes dari para petani tembakau yang menanam bahan utama pembuatan rokok.

Namun, menurut Juliari, kebanyakan produksi rokok saat ini juga telah menggunakan tembakau impor. Sehingga, ia menyarankan sebaiknya petani tembakau berganti jenis tanaman yang dipanen.

"Jadi harus mendesak pemerintah supaya harga rokok dan cukai dinaikan. Ini bukan untuk meningkatkan APBN saja, itu jangka pendek. Jangka panjangnya anak kita terlindungi dari rokok," ucapnya.

Selain berbahaya bagi kesehatan secara fisik, Juliari menyampaikan bahwa rokok bisa menjadi pintu gerbang anak mengenal narkoba. Jika telah terjerumus pada narkoba maka yang dikhawatirkan masa depan anak jadi terancam.

"Harus diingat pengenalan narkoba dari rokok. Lama-lama nyobain ganja lalu sabu. Begitu masuk ke narkoba ya sudah habis. Mau rehab seperti apa pun, kalau sudah narkoba sejak dini itu sudah sulit," ujar Juliari.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →