AALI Investasikan Rp300 Miliar untuk Bangun Dua Pabrik Baru
INDUSTRY.co.id - Jakarta – PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menginvestasikan dana Rp300 miliar untuk membiayai pembangunan dua pabrik baru. Kedua pabrik baru yang akan dibangun itu adalah pabrik pencampuran pupuk (Fertilizer Blending Plant/FBP) dan pabrik penyulingan minyak inti sawit (Palm Kernel Oil/PKO).
“Kami berencana membangun fertilizer blending plant berkapasitas produksi 100.000 ton per tahun di Kalimantan Tengah. Sedangkan pabrik PKO berkapasitas produksi 400 ton per hari akan kami bangun di Sulawesi,” ungkap Widya Wirawan, Komisaris Utama AALI, kepada wartawan usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Raffles Hotel Jakarta Ciputra World, Jakarta Selatan, Selasa (11/04/2017).
Widya mengemukakan, manajemen AALI akan membutuhkan dana investasi sekitar Rp200 miliar untuk membiayai pembangunan pabrik PKO tersebut. Sedangkan untuk pembangunan fertilizer blending plant, manajemen AALI hanya membutuhkan investasi sekitar Rp100 miliar. “Jadi total investasi yang kami butuhkan adalah Rp300 miliar,” imbuhnya.
Widya menjelaskan, kinerja perseroan yang cukup mumpuni pada 2016 membuat manajemen AALI optimistis terhadap kegiatan bisnis tahun ini. Manajemen AALI akan terus melanjutkan agenda ekspansi usaha, khususnya di bidang perkebunan pada tahun ini.
“Kami berharap produksi tandan buah segar (TBS) dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dapat kembali normal seperti pada 2015. Karena Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan iklim tahun ini relatif normal dibanding 2016. Tahun ini diperkirakan tidak terjadi musim kemarau yang berkepanjangan dan musim hujan yang berkepanjangan pula,” papar Widya.
Kendati produksi CPO perseroan terpangkas pada 2016, namum pendapatan AALI masih dapat tumbuh 8,1% menjadi Rp14,12 triliun dibandingkan pada 2015. Itu disebabkan oleh kenaikan harga CPO sebesar 11,4% sepanjang 2016.
Pertumbuhan pendapatan tersebut mendorong lonjakan laba bersih hingga 216% pada 2016. Itu karena terdorong oleh dua faktor, yaitu efisiensi biaya operasional perseroan dan laba selisih kurs rupiah terhadap dolar Amerika.
Manajemen perseroan pada tahun ini juga berkomitmen untuk melanjutkan program integrasi kebun sawit dengan peternakan sapi yang telah digulirkan sejak 2014. (Abraham Sihombing)