REI Penggerak Ekonomi

Oleh : Ilham M. Wijaya | Sabtu, 01 April 2017 - 16:54 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

ULANG  tahun Real Estate Indonesia ke-45 yang diadakan di Bali terasa berbeda dari acara yang sama sebelumnya.

Dibawah kepemimpinan Soelaeman Soemawinata memang sedari awal REI sudah membawa pesan yang berbeda dari sebelumnya.

Apa yang berbeda tersebut, setidaknya ada dua hal yaitu pertama, kesan membangun wibawa organisasi REI begitu kuat dimana acara disetting sangat besar hingga melibatkan musisi dari luar negeri, hal yang tidak pernah terjadi diperiode sebelumnya

Yang kedua, keberpihakan REI terhadap perumahan rakyat khususnya untuk masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR semakin terasa tajam dan selalu menjadi bahan pembicaraan dalam tema-tema kegiatan internal REI.

Perlu kiranya kita melihat lebih subtantif terhadap peran serta organisasi ini khususnya dalam bidang penyediaan perumahan rakyat.

Sejak berdiri hingga sudah memasuki usia 45 Tahun. REI sebagai asosiasi perusahaan real estat di Indonesia dihadapkan pada dinamika organisasi internal maupun eksternal yang telah menyebabkan organisasi ini menjadi lebih matang.

Kematangan organisasi itu terlihat nyata dari keikutsertaan anggota baru yang tidak pernah surut. Begitu juga dengan minimnya konflik organisasi yang seringkali menjadi masalah klasik disetiap organisasi. Juga terkait dengan sinergisitas pengembang notabene besar dengan pengembang kecil selalu berjalan beriringan.

Namun demikian ada isu krusial yang harus diselesaikan oleh organisasi REI kedepan, yaitu peran organisasi dalam menciptakan pengembang menjadi lebih profesional, naik kelas dan yang terpenting memiliki jiwa patriotisme dalam membangun bangsa dan negara.

Isu itu seringkali luput dari perhatian para pengurus, mengingat REI sudah terbiasa dengan suasana para pengusaha yang identik dengan acara-acara seremonial dan 'pesta' sedangkan kegiatan yang membutukan energi untuk berpikir dan mengembangkan profesionalisme serta mencari solusi2 masalah anggota lalai jadi perhatian.

Dari setiap periode kepengurusan kesadaran terhadap hal tersebut sebetulnya sudah mulai muncul. Dan momentumnya ketika periode kepemimpinan Teguh Satria 2007-2010,didirikan Badan Diklat REI untuk mewujudkan profesinalisme anggota melalui forum2 pelatihan dan sharing experiences antara pengembang besar dan kecil.

Dari perjalanan Badan Diklat REI dari awal hingga sekarang terus menunjukkan kinerja yang positif. Hal itu ditandai dengan pembentukan Lembaga Sertifikasi Real estat Indonesia.

Begitu pentingnya isu pengembangan profesionalisme ini. Sehingga mau tidak mau REI harus melakukan revitalisasi pengelolaan organisasi agar dampak berorganisasi bagi anggota ada manfaat yang didapat. Bukan hanya sebatas untuk mendapatkan sertifikat keanggotaan atau karena syarat mendapatkan kredit pembiayaan dari bank.

Dengan adanya program yang dirancang oleh organisasi untuk memberikan manfaat kepada anggota melalui Badan Diklat REI, diharapkan REI kedepan sudah bisa mengikuti ritme perkembangan global yaitu daya saing yang profesional didasari oleh standar pengembangan setiap level bisnis dalam bidang real estat

Selebihnya program2 lainnya memang menjadi hal rutinitas organisasi seperti; advokasi perijinan, pertanahan, pembiayaan, dan bidang-bidang ikutan dalam suatu rentetan bisnis real estat.

Selain itu peran serta REI yang nyata sebagai mitra pemerintah dalam penyediaan hunian bagi masyarakat. Perlu terus digalakan dengan mendorong kepada pemerintah agar bisnis real estat dimasukan kedalam salahsatu indikator yang menjadi variabel penggerak ekonomi.

Karena dengan dianggapnya sektor real estat ini dalam variabel ekonomi. Pemerintah tentunya akan menjaga dinamika bisnis ini agar berjalan sesuai harapan.

Akhirnya untuk mengarah kehal2 strategis tersebut kepemimpinan REI sekarang sudah harus memulai dengan membangun hubungan dengan berbagai pihak secara elegan serta mampu mengkomunikasikan kesemua pihak terkait agenda REI sebagai penggerak ekonomi.

Dirgahayu REI ke 45!!!

*) Penulis adalah Sekretaris Badan Diklat DPPREI 2016-2019

Ilham M. Wijaya Lihat semua artikel →