2017, Penjualan Mandom Indonesia Ditargetkan Tumbuh Lebih dari 10%

Oleh : Abraham Sihombing | Kamis, 23 Maret 2017 - 14:52 WIB · 1 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta- Penjualan PT Mandom Indonesia Tbk (TCID), produsen kosmetik dan perawatan tubuh, ditargetkan tumbuh di atas 10% pada 2017. Itu karena pertumbuhan penjualan TCID pada 2016 tercatat sebesar Rp2,53 triliun, atau meningkat 9,2% dibanding pada satu tahun sebelumnya.

“Kinerja penjualan 2016 menjadi semangat kami untuk mencatat pertumbuhan penjualan di atas 10% pada tahun ini,” ujar Muhammad Makmun Arsyad, Direktur Utama TCID, kepada wartawan di Jakarta, Kamis (23/2).

Makmun mengemukakan, pertumbuhan penjualan perseroan pada 2016 ditopang oleh kehadiran pusat distribusi Mandom Indonesia di Surabaya, Jawa Timur. Di samping itu, penambahan 10 titik distribusi Mandom pada 2016 turut mendongkrak penjualan.

Dari sisi wilayah, demikian Makmun, kenaikan penjualan TCID terlihat di Indonesia timur. Hingga kini, Mandom Indonesia memiliki 142 titik distribusi. Sementara itu, kontribusi penjualan TCID terbesar berasal dari penjualan domestik dengan porsi 74,3% dan sisanya ekspor.

Makmun menuturkan, penjualan domestik tahun ini diperkirakan memberikan kontribusi sekitar 70% dari penjualan konsolidasi perseroan. Sisanya merupakan penjualan ekspor.

Meski demikian, menurut Makmun, TCID membukukan laba Rp150,7 miliar pada 2016, atau lebih rendah 70,1% dibandingkan realisasi laba pada tahun sebelumnya. Penurunan laba 2016 karena laba 2015 terlihat tinggi menyusul penjualan tanah dan bangunan serta pabrik Mandom di Sunter, Jakarta Utara pada 2015 lalu, yang dicatatkan ke dalam laba perseroan.***

 

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →