Kurs Dolar AS Terdepresiasi Terhadap Sejumlah Mata Uang Utama Dunia

Oleh : Abraham Sihombing | Selasa, 24 Januari 2017 - 08:47 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta – Kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah mata uang utama dunia di New York, AS, pada Senin (23/01/2017) waktu setempat, tergerus ke titik terendah dalam tujuh pekan terakhir ini. Itu dipicu oleh kekhawatiran terhadap pemerintahan awal Trump yang diguncang oleh berbagai gelombang demonstrasi, pidato-pidato yang proteksionis serta sejumlah opini ketidaksukaan masyarakat AS terhadap pemerintahan Trump di media sosial Twitter.
 
Menurut kantor berita Reuters, Selasa (24/01/2017), kondisi tersebut mendorong para investor untuk mengalihkan portofolio investasinya ke aset-aset berdenominasi yen Jepang. Akibatnya, kurs mata uang Jepang tersebut mengalami apresiasi selama dua hari berturut-turut. Sejak awal 2017 ini, yen telah menguat 3%.
 
Pidato Presiden Donald Trump di awal pemerintahannya tersebut disambut oleh berbagai demostrasi yang terkoordinir di berbagai kota di AS. Para anggota kabinet Trump terlibat ‘adu mulut’ dengan berbagai media massa.
 
Kondisi itu diperparah karena muncul sebuah laporan yang menegaskan bahwa sejumlah pakta perdagangan utama AS akan menuju kehancuran. Ketiga faktor tersebut diperkirakan bakal menciptakan resistensi masyarakat AS terhadap presiden baru mereka itu dalam beberapa bulan mendatang.
 
Indeks dolar AS terhadap enam mata uang terkemuka di dunia terpangkas 0,6% menjadi 100,16 pada Senin (23/01/2017) waktu setempat. Itu karena kurs dolar AS susut 1,4% terhadap yen menjadi 113,01 per dolar AS. Depresiasi kurs dolar AS terhadap yen tersebut adalah yang terbesar dalam dua pekan terakhir ini.
 
Kurs poundsterling Inggris turut menguat terhadap dolar AS dan menyentuh level tertinggi dalam enam pekan terakhir, yaitu USD1,2506. Disamping masalah domestik AS, apresiasi poundsterling Inggris ini juga disebabkan oleh perkiraan para pelaku pasar terhadap Mahkamah Agung Inggris yang akan menerbitakan regulasi yang mengharuskan pemerintah Inggris meminta persetujuan dari Parlemen sebelum meresmikan Brexit.
 
Disamping terhadap dolar AS, kurs poundsterling juga menguat terhadap euro ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Sementara itu, euro menguat 0,5% terhadap dolar AS menjadi US$1,0751. Ini adalah apresiasi ketujuh yang dialami euro dalam sembilan kali perdagangan terakhir.***

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →