Laba Bersih Wijaya Karya Tumbuh 14,5% pada 2017

Oleh : Abraham Sihombing | Rabu, 14 Maret 2018 - 10:59 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mencatat laba bersih sebesar Rp1,2 triliun pada 2017. Itu menunjukkan pertumbuhan 14,5% dibandingkan dengan realisasi laba bersih 2016 sebesar Rp1,05 triliun.

“Pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang oleh peningkatan penjualan yang signifikan, yakni sebesar 67,06% menjadi Rp26,18 triliun pada 2017 dibandingkan dengan realisasi penjualan pada tahun sebelunnya sebesar Rp15,67 triliun,” ujar Bintang Perbowo, Direktur Utama WIKA, di Jakarta, Rabu (14/03/2018).

Untuk 2018, demikian Bintang, manajemen WIKA akan mengalokasikan dana sebesar Rp12 triliun untuk membiayai belanja barang modal (capital expenditure/capex). Sekitar 58,7% dari capex itu akan digunakan untuk membiayai penyertaan modal, sekitar 36,3% untuk pengembangan usaha dan 5% akan digunakan utnuk investasi aset tetap.

“Capex tersebut harus segera dialokasikan mengingat kami hingga pekan kedua Maret 2018 telah memperoleh kontrak baru bernilai Rp10,45 triliun,” tukas Bintang.

Bintang menjelaskan, sekitar Rp7,55 trilin dari kontrak baru tersebut berasal dari sektor infrastruktur, sebesar Rp2,05 triliun dari sektor industri, sebesar Rp622 miliar dari sektor energi dan industrial plan dan sebesar Rp196 miliar dari sektor properti dan realty.

Sementara itu, A.N.S. Kosasih, Direktur Keuangan WIKA, mengungkapkan, sekitar 62,25% dari pendapatan konsolidasi WIKA pada 2017 tersebut berasal dari sektor infrastruktur dan bangunan gedung, sebesar 17,92% dari sektor industri penunjang infrastruktur, sebesar 14,41% dari sektor energi dan industrial plant dan sebesar 5,41% dari sektor realty dan properti.

“Bukan hanya laba yang kita bukukan terbesar sepanjang sejarah WIKA, akan tetapi kesehatan keuangan WIKA pun mencapai yang terbaik sepanjang sejarah,” tutur Kosasih.

Posisi kas dan setara kas WIKA juga mencapai posisi tertinggi sepanjang sejarah, yakni Rp11,25 triliun. Posisi utang berbunga sebesar Rp9,01 triliun dan ekuitas Rp14,63 triliun, menghasilkan rasio hutang gross gearing dan net gearing masing-masing hanya sebesar 0,62 kali dan -0,15 kali.

"Itu menunjukan bahwa WIKA amat sangat sehat secara keuangan dan memiliki kemampuan finansial yang sangat tinggi untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat dan ditargetkan pemerintah," pungkas Kosasih. (Abraham Sihombing)

 

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →