Para Petani Cabai Tidak Meraup Untung Dari Tingginya Harga Cabai

Oleh : Ridwan | Sabtu, 14 Januari 2017 - 15:20 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Kasus naiknya harga cabai perlu dilihat dari berbagai aspek. Jika pemerintah mengklaim bahwa ini terkait cuaca, maka hanya aspek produksi yang dilihat. Padahal, persoalan harga terkait dengan banyak aspek terutama rantai distribusinya.

Pemerintah sebetulnya bisa memetakan hulu hingga hilir distribusi bahan pangan agar lebih mudah mengidentifikasi titik apa yang paling mempengaruhi kenaikan harga. Selanjutnya, menentukan bentuk intervensi yang tepat guna menstabilkan harga cabai.

Bukan hanya dari aspek produksi, mengingat pasokan cabe rawit secara nasional sebetulnya masih surplus. Kebutuhan konsumsi masyarakat mencapai 68 ribu ton, sementara total produksinya masih aman di angka 73 ribu ton.

Kita tidak tahu siapa sebetulnya yang paling mendapatkan keuntungan dari ini. Jika harga cabai tinggi, seharusnya petani bisa meraup untung yang lebih dari biasanya. Tapi, ini tidak demikian, ujar Evita Hanie Pangaribowo selaku Pakar Kebijakan Pangan dari Pusat Studi Universitas Gadjah Mada yang dilansir aktual.com

Dalam keterangan tertulisnya Ervita mengatakan, Apabila pemerintah bersikukuh bahwa kenaikan harga cabai merupakan persoalan cuaca, maka pemerintah seharusnya memikirkan mekanisme yang tepat untuk membantu petani dalam menghadapi perubahan cuaca. Dengan begitu petani tidak merugi besar manakala perubahan cuaca terjadi.

Pemerintah diharapkan bisa berperan untuk mencari potensi kerjasama dalam rangka membangun jaring perlindungan bagi petani.

Langkah ini dinilai lebih efektif dibandingkan dengan mengatur harga bahan pokok. Karena meski sudah diatur pemerintah, seringkali pada prakteknya harga tersebut tidak berlaku sepenuhnya.

Petani mendapatkan harga yang berbeda-beda. Konsumen pun demikian karena mata rantai distribusi yang berbeda-beda.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →