Hari ini, IHSG Berpotensi Alami Profit Taking di Kisaran 6.594-6.637

Oleh : Abraham Sihombing | Senin, 26 Februari 2018 - 08:47 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bakal menghadapi aksi ambil untung (profit taking) pada perdagangan hari ini setelah sepekan kemarin naik 0,4% ke posisi 6.619.

“Kenaikan IHSG 0,4% pada pekan lalu memposisikan IHSG di bawah target titik resistensi antara 6.628-6.638,” ujar Reza Priyambada, analis PT Binaartha Parama Sekuritas, di Jakarta, Senin (26/02/2018).

Karena itu, Reza memprediksi, titik support IHSG saat ini berada di rentang 6.594-6.610 dan titik resistensinya di kisaran 6.628-6.637. IHSG mulai terlihat bergerak naik dan kondisi itu diharapkan dapat menciptakan tren kenaikan indeks.

Kendati demikian, menurut Reza, kenaikan IHSG harus diuji kembali ketahanannya untuk menghadapi aksi profit taking yang berpeluang menahan kenaikan lebih lanjut. Karena itu, IHSG saat ini bakal kembali mencoba menguat, tetapi aksi profit taking masih tetap diwaspadai.

Reza mengungkapkan, dengan adanya potensi aksi profit taking yang berpotensi menahan tren kenaikan indeks, maka kondisi itu dapat dimanfaatkan para pelaku pasar untuk mencermati saham-saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Astra International Tbk (ASII).

“Disamping itu, para pelaku pasar juga perlu mencermati pergerakan harga saham-saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI) dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA). (Abraham Sihombing)

 

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →