IHSG Cenderung Lemah Delapan Saham Disodorkan

Oleh : Abraham Sihombing | Senin, 05 Februari 2018 - 09:30 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta-Pada perdagangan saham, Senin (5/2/2018) saham-saham yang masih dapat diperhatikan diantaranya BBRI, CPIN, INDF, JSMR, RALS, ADRO, MEDC, TBIG.

Lanjar Nafi, analis Reliance Sekuritas Indonesia mengatakan pada perdagangan kali ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melemah.

"Meskipun ditutup menguat secara teknikal pola candlestick yang terbentuk pada IHSG diakhir pekan membentuk pola bearish counter attack dengan terkonsolidasi pada MA5. Indikator stochastic bergerak bearish sedangkan Indikator RSI terkonsolidasi dengan momentum yang cukup tinggi.
Indikasi melemah cukup kuat pada perdagangan dipekan depan para rentan harga 6522-6655," ujar dia di Jakarta, Senin (5/2/2018).

IHSG (+0.46%) kemarin menguat 30.36 poin dilevel 6628.82 dengan sektor aneka industri (+1.18%) menguat pada saham POLY, KBLM dan ASII. BI menyatakan volatilitas rupiah terhadap USD dinilai cukup stabil dan dapat diredam oleh aliran modal asing yang masuk. Meskipun pada perdagangan diakhir pekan ini investor asing tercatat net sell 778.18 Miliar rupiah dengan saham BBCA tercatat net value investor asing sebesar -163.42 Miliar.

 

Bursa saham di Eropa dibuka tertekan diawal sesi perdagangan akhir pekan. Indeks Eurostoxx (-1.33%), FTSE (-0.34%) dan DAX (-1.57%) dibuka tertekan cukup signifikan. Meningkatnya tekanan pada imbal hasil obligasi diseluruh dunia yang mendorong BOJ untuk bertindak agar tingkat suku bunga tidak sesuai dengan target kebijakan. Bursa saham di Eropa mengalami penurunan terpanjang sejak november. Euro diperdagangkan sedikit berubah dan imbal hasil Jerman beringsut lebih tinggi.

 
Mayoritas indeks saham di Asia menutup pekan dengan tekanan. Indeks Nikkei (-0.90%), TOPIX (-0.33%), Hangseng (-0.12%) dan KOSPI (-1.68%) ditutup melemah sedangkan Shanghai (+0.60%) dan IHSG (+0.46%) bertahan di zona hijau. Yen Jepang turun 0,4 persen menjadi 109,79 per dolar, yang terlemah dalam lebih dari seminggu.