Pendapatan Intikeramik Alamasri Industri Terpangkas 84% pada 2017

Oleh : Abraham Sihombing | Kamis, 01 Februari 2018 - 17:27 WIB · 1 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI), produsen keramik bermerek Essenza, membukukan pendapatan yang belum diaudit sebesar Rp13,33 miliar pada 2017. Itu lebih rendah 84% dibandingkan realisasi pendapatan pada 2016 sebesar Rp83,77 miliar.

Penurunan tersebut disertai dengan anjloknya beban pokok pendapatan perseroan dari sebesar Rp102,61 miliar pada 2016 menjadi Rp42,04 miliar pada 2017. Disamping itu, penurunan lainnya juga dialami oleh beban penjualan, beban administrasi dan denda pajak.

Bahkan, perseroan juga masih mengalami kerugian sebesar Rp52,91 miliar pada 2017. Kendati demikian, kerugian tersebut telah berkurang 63,6% jika dibandingkan pada 2016 sebesar Rp145,36 miliar.

Penurunan pendapatan serta bottom line perseroan yang masih negatif pada 2017 tersebut karena iklim investasi industri keramik di Indonesia dalam dua tahun terakhir ini cukup berat.

Kondisi itu ditambah dengan tingginya harga gas sebagai bahan bakar utama. Akibatnya, berbagai produsen keramik di Indonesia melakukan efisiensi besar-besaran. Hal serupa juga dialami oleh IKAI dalam dua tahun terakhir ini.

Pada paruh kedua tahun lalu, IKAI melaksanakan Penawaran Umum Terbatas (PUT) dengan HMETD dengan total dana yang diperoleh Rp355,65 miliar. Dana itu digunakan untuk membiayai akuisisi PT Realindo Sapta Optima, akuisisi PT Mahkota Artha Mas dan akuisisi PT Mahkota Properti Indo Medan. (Abraham Sihombing)

 

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →