Penguatan Kurs Ringgit Malaysia Berpotensi Tekan Harga CPO

Oleh : Abraham Sihombing | Senin, 29 Januari 2018 - 14:30 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta – Penurunan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diperkirakan bakal terus berlanjut pada peradagangan Senin (29/01/2018) ini setelah harga komoditas kelapa sawit itu ditutup melemah 1% pada perdagangan Jumat (26/01/2018) pekan lalu.

“Harga CPO Malaysia hari ini diperkirakan bakal bergerak di kisaran RM2.460 – 2.515 per ton,” ujar Faisyal, analis bursa berjangka dari PT Monex Investindo Futures di Jakarta, Senin (29/01/2018).

Faisyal mengungkapkan, kurs ringgit saat ini berada di posisi terkuat sejak 20 April 2016 terhadap dolar Amerika. Apresiasi kurs ringgit terjadi Kamis pekan lalu ketika bank sentral Malaysia untuk pertama kalinya dalam tiga setengah tahun terakhir menaikkan suku bunga.

“Laju inflasi yang mulai merangkak naik ditambah dengan pertubuhan ekonomi Malaysia yang cukup baik menjadi faktor pendukung kebijakan bank sentral Malaysia untuk menaikkan tingkat suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,25%.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat (AS) mensyukuri terjadinya depresiasi kurs dolar AS. Pasalnya, menurut Menteri Keuangan AS pekan lalu, depresiasi dolar AS tersebut akan baik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi AS kedepan.

Disamping itu, demikian Faisyal, volume produksi CPO Indonesia dan Malaysia diprediksi bakal meningkat pada tahun ini, yang masing-masing bakal mencapai 37,8 juta ton dan 20,5 juta ton. Peningkatan volume produksi tersebut disebabkan oleh pemulihan produksi CPO pasca badai El Nino yang sempat bertahan beberapa waktu lalu. (Abraham Sihombing)

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →