Penyusutan IHSG di Awal 2018 Secara Teknikal Dinilai Wajar

Oleh : Abraham Sihombing | Kamis, 04 Januari 2018 - 11:28 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kendati mayoritas bursa saham di kawasan Asia cenderung mengalami kenaikan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan kemarin turun 87,75 poin. Secara teknikal, hal itu dinilai wajar oleh Lanjar Nafi, analis Reliance Sekuritas Indonesia.

IHSG turun 87,75 poin atau 1,38% ke posisi 6.251. Sementara itu, saham-saham yang tergabung dalam indeks LQ45 terpangkas 19,70 poin (1,83%) ke level 1.056.

“Penurunan IHSG kemarin disebabkan oleh tekanan jual yang berasal dari sektor konsumer dan sektor infrastruktur yang cukup signifikan. Kendati demikian, pembelian bersih (net buying) investor asing yang bernilai hampir US$71,80 miliar berhasil menahan penurunan IHSG lebih dalam lagi,” papar Lanjar di Jakarta, Kamis (04/01/2018).

Lanjar mengemukakan, bahkan penurunan yang dialami IHSG beberapa hari terakhir di awal tahun baru 2018 ini adalah wajar. Pasalnya, sebelum menutup akhir tahun 2017, IHSG telah mengalami lonjakan kenaikan yang signifikan, sehingga kondisi pasar menjadi jenuh beli (overbought).

Lanjar memaparkan, penurunan yang terjadi saat ini karena pelaku pasar merealisasikan laba (profit taking) pasca kenaikan nilai portofolio mereka. Itu adalah wajar. Aksi jual tersebut yang nantinya meredakan kondisi jenuh beli sehingga kondisi pasar akan kembali setimbang, bahkan cenderung naik.

“IHSG secara teknikal pada perdagangan hari ini akan cenderung bertahan di posisi 6.250 dengan indikator negatif yang berada di kisaran 6.200-6.300,” imbuh Lanjar. (Abraham Sihombing)

 

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →