Astra International Alokasikan Belanja Modal Rp15 Triliun pada 2018

Oleh : Abraham Sihombing | Jumat, 10 November 2017 - 06:11 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Ciloto – Manajemen PT Astra International Tbk (ASII) mengalokasikan belanja barang modal (capital expenditure/capex) antara Rp14-15 triliun untuk tahun depan. Sebagian besar dari capex tersebut akan dianggarkan ke PT United Tractors Tbk (UNTR).

Tira Ardiyanti, Head of Investor Relation Division ASII, mengemukakan, alasan Astra menganggarkan sebagian besar capex tersebut ke UNTR karena anak usaha Astra yang berbisnis di sektor alat berat dan pertambangan tersebut perlu membeli berbagai alat berat baru untuk mendukung bisnis kontraktor pertambangan yang dijalankan oleh anak usaha UNTR, yakni PT Pamapersada.

“Hal itu dimungkinkan karena harga batu bara saat ini mulai membaik. Tetapi ketika harga batu bara rendah, banyak perusahaan pertambangan yang juga menunda investasi modal kerjanya, termasuk United Tractors,” papar Tira di Hotel Sahid Eminence, Ciloto, Puncak-Jawa Barat, Rabu (09/11/2017).

Tira menuturkan, ketika harga batu bara turun, besarnya capex UNTR hanya berkisar Rp3-4 triliun. Dalam keadaan normal, capex UNTR tersebut dapat mencapai Rp7 triliun. Hal itu karena kinerja UNTR sangat peka sekali terhadap kenaikan dan penurunan batu bara.

Tira menjelaskan, hingga akhir September 2017, Astra secara konsolidasi telah merealisasikan capex sekitar Rp10,9 triliun dari target realisasi capex setahun penuh pada tahun ini sebesar Rp17 triliun.

“Jika capex tersebut tidak terserap sepenuhnya pada tahun ini, maka sisanya akan kami alokasikan (carry over) untuk capex pada tahun depan,” tukas Tira.

Tira mengungkapkan, secara konsolidasi, capex Astra dalam beberapa tahun terakhir ini, tercatat antara Rp20-25 triliun. Tetapi untuk tahun depan, hanya sekitar Rp14-15 triliun. Penurunan capex tersebut disesuaikan dengan berbagai keperluan yang harus diprioritaskan Astra di dalam operasional bisnisnya sehari-hari.

Tira mengatakan, dana capex 2018 tersebut berasal dari kombinasi kas internal dan pinjaman perbankan. “Capex kami biasanya dara dana internal kas perseroan dan juga bisa dari pendanaan bank,” tukas Tira.

Tira menegaskan, Astra akan memanfaatkan pinjaman perbankan jika distributor otomotif terbesar di Indonesia tersebut benar-benar membutuhkannya. Jika Astra membutuhkan pendanaan bank, fasilitasnya sudah ada karena tingkat utang Astra saat ini masih dalam taraf yang normal dan masih dapat terus ditingkatkan, jika diperlukan. (Abraham Sihombing)

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →