Ketua Asosiasi E-commerce Indonesia Inginkan Infrastruktur Data yang Jelas Dari Pemerintah

Oleh : Ridwan | Selasa, 24 Oktober 2017 - 15:43 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Berdasarkan penelitian McKinsey tahun lalu mengungkapkan, Indonesia merupakan negara ketiga terbesar yang mengalami peningkatan popularitas pembelanjaan lewat ponsel (e-commerce). Sementara, menurut data Kementerian Perindustrian dari 250 juta penduduk di Indonesia, 93,4 juta orang pengguna internet.

"Ini merupakan potensi yang harus diambil oleh para pelaku lokal secara cepat," ujar Ketua Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), Aulia E. Marinto kepada INDUSTRY.co.id di Jakarta, Selasa (24/10/2017).

Menurut Aulia, potensi Indonesia, baik saat ini maupun kedepannya lebih besar jika dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. "Mereka akan menaruh Indonesia di depan untuk inveati mereka," terangnya.

Lebih lanjut, Aulia menambahkan, saat ini para pelaku e-commerce di Indonesia masih mencari formula yang tepat untuk mengetahui nilai pasar e-commerce di Tanah Air. Menurutnya, angka itu harus angka yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Kenapa angka nilai spasr e-commerce di Indonesia belum ada yang akurat, karena hampir semua industri digital di Indonesia private sector. Kalau private sector itu menjadi hak mereka untuk tidak memberikan datanya," ucap Aulia.

Aulia menambahkan, belum adanya infrastruktur untuk menerima data di Indonesia menjadi salah satu kendala mengapa nilai pasar industri e-commerce di Indonesia masih belum akurat. "Sampai saat ini infrastruktur data masih belum ada di Indonesia," tambahnya.

Aulia mencontohkan, Indonesia saat ini mempunyai 54 juta UMKM, sebagai pelaku usaha e-commerce yang komitmen membangun UMKM, ia ingin mengetahui berapa jumlah penjual produk-produk Indonesia.

"Siapa penjualnya, mana yang diekspor, tapi semua itu tidak bisa didapatkan angkanya dengan pasti, karena pemerintah belum biasa menyediakan infrastruktur data untuk para pelaku industrui digital agar bisa secara langsung melihat berapa besar nilai pasarnya." ungkapnya.

"Di Korea, semua pemain e-commerce setor data ke pemerintah, bukan ke asosiasi. Data itu untuk Presiden mengambil keputusan," imbuh Aulia.

Aulia mengajak semua para pelaku industri digital dan pemerintah untuk segera membuat infrastruktur data. "Infrastruktur data menjadi sangat penting untuk pengembangan industri digital di Tanah Air sekaligus menjadi bahan untuk Presiden mengambil keputusan guna pertumbuhan industri digital nasional," tutup Aulia.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →