Kerja Besar Bank BTN Menuju Posisi 5 Bank Terbesar Nasional
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Optimistis dengan pertumbuhan bisnis di tahun 2017, BTN kembangkan bisnis organik dan anorganik. Beberapa rencana bisnis disusun, mulai dari peningkatan layanan hingga akuisisi lembaga keuangan non bank.
Di tengah belum stabilnya kondisi perekonomian global, optimisme masih membayangi pertumbuhan properti di tahun 2017. Alasannya, fundamental Indonesia masih kuat yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi pada 2016 sebesar 5,02% atau tertinggi dalam dua tahun terakhir dan diprediksi akan melanjutkan pertumbuhannya lebih tinggi yaitu sebesar 5,1%-5,2% (yoy) pada tahun 2017. Berbekal keyakinan tersebut manajemen PT Bank Tabungan Negara Tbk (Bank BTN) Persero menetapkan target pembukuan pertumbuhan laba di tahun 2017 yang cukup agresif.
Seperti disampaikan oleh Direktur Utama Bank BTN, Maryono, kepada redaksi Industry.co.id beberapa waktu lalu. BTN menetapkan target pertumbuhan laba bersih di atas 20% pada 2017. Hal tersebut akan melanjutkan pencapaian BTN selama semester I Tahun 2017. Sepanjang paruh pertama tahun ini, Bank BTN terus mencatatkan kinerja positif. Pada semester I/2017, Bank BTN telah menyalurkan kredit dan pembiayaan senilai Rp177,4 triliun atau naik 18,81% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp149,31 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi pun, menjadi penyumbang terbesar pada pertumbuhan kredit perumahan Bank BTN. Per Juni 2017, KPR Subsidi Bank BTN naik 28,34% yoy dari Rp49,86 triliun menjadi Rp63,99 triliun. Kenaikan juga terjadi pada segmen KPR Non-subsidi yang tumbuh 11,09% yoy dari Rp57,15 triliun pada kuartal II/2016 menjadi Rp63,49 triliun di periode yang sama tahun ini.
Bank BTN masih memimpin pangsa pasar pembiayaan di sektor perumahan. Untuk KPR per 31 Maret 2017 BTN menguasai pangsa pasar sebesar 35,4% dan pangsa pasar KPR FLPP sebesar 95,77% per Juni 2017. Secara total, KPR dan kredit pemilikan apartemen (KPA) Bank BTN tumbuh di level 19,13% yoy per akhir Juni 2017.
Pertumbuhan laba bersih tersebut tak lain masih ikut ditopang oleh masih berlangsungnya Program Sejuta Rumah pemerintah, dengan alokasi pemerintah untuk program ini juga kian besar. Selain itu, lanjut Maryono, bisnis properti yang positif, mengingat kebutuhan akan perumahan di Indonesia yang masih besar dan properti cenderung menjadi pilihan investasi masyarakat di Indonesia.
Faktor pendukung selanjutnya adalah kestabilan moneter. Diantaranya efek relaksasi Loan to Value (LTV) dan Financing to Value (FTV) yang akan lebih nyata di tahun 2017 serta adanya perubahan kebijakan BI 7-day repo rate sebagai suku bunga acuan juga akan menjadi bantalan untuk kestabilan moneter di tengah sentimen kenaikan Fed Fund Rate.
Posisi suku bunga acuan yang lebih bersahabat ini menjadi penyokong pertumbuhan kredit perbankan yang lebih baik di tahun ini. fundamental Indonesia sudah cukup kuat juga diyakini dengan adanya strategi pembangunan infrastruktur, tax amnesty, dan kebijakan pemerintah lainnya akan menjadi momentum pertumbuhan bisnis di berbagai sektor, termasuk properti
Terus Penuhi Target Program Sejuta Rumah
Pencapaian target pertumbuhan laba bersih pada tahun 2017 tersebut akan diupayakan BTN melalui pencapaian target pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar 21%-23%. Sementara dari sektor KPR sendiri, pertumbuhan yang diincar akan naik 33%. Untuk KPR subsidi BTN membidik pembiayaan bagi 185.000 unit rumah baru. Sementara untuk KPR non-subsidi BTN mengincar akan membiayai 78.000 unit rumah. Selain itu BTN juga akan menyalurkan kredit konstruksi bagi para pengembang dalam rangka pemenuhan Program Sejuta Rumah ini.
Secara total menurut Maryono, dalam rangka mendukung Program Satu Juta Rumah, BTN menargetkan akan menyalurkan kredit konstruksi dan KPR untuk 666.000 unit rumah pada akhir 2017. Per Juni 2017, sambungnya, BTN telah merealisasikan pembiayaan perumahan untuk 370.173 unit rumah atau setara 50 persen lebih dari target tersebut.
Beberapa strategi pun dijalankan BTN. Untuk rumah bersubsidi, BTN meningkatkan promosi dengan menggelar ajang Indonesia Property Expo (IPEX) 2017 yang digelar di Jakarta Convention Center pada tanggal 11 hingga 20 Agustus 2017 dan menawarkan beberapa kemudahan dalam program KPR. Diantaranya, bagi pembiayaan KPR Non-Subsidi, perseroan menawarkan bunga KPR sebesar 5% fixed 1 tahun serta 6,5% fixed 3 tahun. Selain itu ada juga uang muka atau down payment (DP) mulai dari 5%, one hour approval, dan diskon hingga 20% untuk premi asuransi jiwa. Pada IPEX 2017 juga ditawarkan fasilitas KPR bundling untuk kendaraan bermotor, furniture dan promo lainnya.
Selain promosi pada IPEX 2017, bank ini juga meluncurkan KPR Mikro bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan maksimal plafon kredit senilai Rp75 juta. Sementara itu untuk kredit rumah komersial, BTN menawarkan menawarkan bunga khusus bagi nasabah dan juga menyederhanakan proses persetujuan KPR dari 1:5:1 menjadi 1:3:1
Dari sisi bisnis organik, tahun ini Bank BTN juga menetapkan beberapa strategi. Selain melakukan penguatan bisnis inti di bidang perumahan, BTN juga mengupayakan peningkatan low cost dan sustainable funding dengan membidik segmen emerging affluent. Pada 2017 ini bank BTN pun terus meningkatkan fee based income, serta membangun dan memperkuat infrastruktur digital banking, sentralisasi operasi, dan otomatisasi proses.
Housing Finance Center (HFC) pun menjadi salah satu strategi BTN meningkatkan segmen pembiayaan KPR. Selain untuk menciptakan pengembang-pengembang baru dengan memiliki tiga pilar yakni pusat riset, edukasi, dan konsultasi. Dari target 1.000 orang peserta yang dididik badan ini, saat ini telah ada 770 peserta.
Diantara program HFC adalah Mini MBA in Property yang telah mencetak 235 lulusan yang hingga awal 2017. Program tersebut merupakan hasil kerja sama Bank BTN dengan School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB). Program ini memberikan 4 pilar pembangunan properti yang dipelajari melalui program ini yakni tanah dan lingkungan (land & environment), modal (capital), hukum (legal), dan keterampilan (skill).
Meski banyak peluang untuk menumbuhkan angka pembiayaan namun BTN tak terlupa menjaga di sisi risiko. Seperti disampaikan oleh Managing Director Strategic, Compliance, & Risk Bank BTN Mahelan Prabantarikso perseroan juga fokus memperkuat Good Corporate Governance dan manajemen risiko yang komprehensif.
Strategi pembenahan kredit konsumer BTN menurutnya difokuskan pada intensifikasi metode dan strategi yang telah ada yakni melalui penagihan, restrukturisasi, dan penjualan aset atau lelang. Di bidang kredit komersial, perbaikan proses bisnis kredit komersial pun dilakukan dengan penerapan kewenangan memutus kredit komersial yang lebih ketat. Perbaikan juga dilakukan melalui proses monitoring kredit yang lebih terintegrasi dan update.
Akuisisi Multifinance dan Manajemen Investasi
Tak lupa, untuk meningkatkan bisnisnya, BTN juga menyusun serangkaian ekspansi anorganik terutama dari sisi produk dan layanan. Selain untuk pengembangan bisnisnya, strategi tersebut juga sebagai upaya mengejar posisi peringkat ke-5 sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia.
Lebih dari itu BTN berkeinginan mengembangkan layanannya hingga ke negara lain. Menurut Managing Director Finance & Treasury Bank BTN Iman Nugroho Soeko, dalam jangka panjang Bank BTN diharapkan dapat melayani nasabah tidak hanya di Indonesia, melainkan juga nasabah di luar negeri. “Dalam rancangan jangka panjang atau hingga 2025, perseroan membidik posisi Global Playership,” ujar Iman.
Masih dalam rangka pengembangan bisnisnya, BTN juga tertarik untuk mengembangkan sayap ke bidang keuangan lainnya. Salah satu ekspansi anorganik BTN untuk jangka pendek adalah membentuk perusahaan patungan di bidang asuransi jiwa. Aksi yang direncanakan terlaksana sebelum menutup tahun 2017 tersebut menganggarkan dana sebesar Rp 200 miliar.
Selain itu bank dengan kode perdagangan BBTN ini juga akan melakukan akuisi terhadap perusahaan manajemen investasi., BTN akan mengakuisisi perusahaan manajemen investasi dan multifinance milik PT Danareksa (Persero) dengan target menjadi pemegang saham mayoritas di kedua perusahaan minimal sebesar 51%.
Bank BTN kata Iman menganggarkan dana maksimal Rp 300 miliar untuk akuisisi masing-masing anak usaha Danareksa tersebut. Adapun rencana pembentukan anak usaha di bidang asuransi umum Bak BTN menggandeng PT Jasindo (Persero) dengan komposisi kepemilikan sebesar 89% untuk Bank BTN, selebihnya Jasindo. Iman mengungkapkan pembentukan asuransi umum tersebut membutuhkan dana sebesar Rp 200 miliar.
Keseluruhan dana disiapkan secara internal oleh Bank BTN untuk kebutuhan ekspansi anorganik mencapai Rp 700 miliar. “Setidaknya dana Rp 700 miliar untuk memenuhi kebutuhan dana tiga ekspansi yang direncanakan,” ujar Iman.
Semua rencana bisnis BTN tak lepas dari keinginan manajemen melanjutkan kinerja positif bisnis bank. Seperti tercatat, tak hanya untuk bisnis bank konvensional, Unit Usaha Syariah (UUS) Bank BTN juga mencatatkan kinerja positif. Per kuartal II/2017, UUS Bank BTN telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp15,82 triliun atau tumbuh 27,15% yoy dari Rp12,44 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penghimpunan DPK BTN Syariah pun tercatat naik 20,34% yoy dari Rp12,99 triliun menjadi Rp15,63 triliun pada Juni 2017.
Dengan catatan positif tersebut, aset UUS Bank BTN tumbuh 22,33% yoy menjadi Rp19,33 triliun pada Juni 2017 dari Rp15,8 triliun di bulan yang sama tahun lalu. Laba bersih unit syariah ini juga melesat 30,03% yoy dari Rp151,3 miliar pada Juni 2016 menjadi Rp196,72 miliar di bulan yang sama tahun ini.