Lima Profesor Riset Baru BRIN Perkuat Kontribusi Sains bagi Pembangunan Berkelanjutan
INDUSTRY.co.id - Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali memperkuat jajaran ilmuwan seniornya dengan mengukuhkan lima Peneliti Ahli Utama sebagai Profesor Riset dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset yang berlangsung di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (24/6).
Pengukuhan ini menjadi penegasan atas kontribusi riset nasional dalam menjawab berbagai tantangan strategis, mulai dari konservasi lingkungan, ketahanan pangan, kesehatan, hingga pembangunan berkelanjutan.
Lima profesor yang dikukuhkan adalah Muhammad Mansur dalam bidang Ekologi dan Evolusi, Enny Widyati pada kepakaran Ekologi Mikrobiom dan Ekologi Restorasi, I Gusti Komang Dana Arsana pada bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, Andri Frediansyah dalam Mikrobiologi Bahan Alam dan Pangan Fungsional, serta Cecep Hidayat pada bidang Rekayasa Pangan dan Nutrisi Unggas.
Mewakili Kepala BRIN, Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menegaskan bahwa profesor riset memiliki posisi strategis dalam memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah semata, melainkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Dalam konteks inilah kehadiran profesor riset menjadi sangat penting, tidak hanya sebagai pengembang ilmu pengetahuan pada tingkat tertinggi, tetapi juga sebagai penggerak yang menjembatani riset dengan kebutuhan masyarakat, riset dengan pembangunan nasional, dan riset untuk kemajuan peradaban,” ujarnya.
Beragam inovasi dan temuan yang dipaparkan para profesor mencerminkan luasnya kontribusi riset nasional. Pada bidang konservasi keanekaragaman hayati, Muhammad Mansur menyoroti pentingnya eksplorasi Nepenthes atau kantong semar di berbagai wilayah Indonesia.
Selama bertahun-tahun meneliti tanaman karnivora tersebut, ia berhasil mendokumentasikan keragaman spesies, distribusi, populasi, interaksi hara, hingga kondisi habitatnya.
Dari penelitian tersebut, Mansur menemukan tiga spesies baru, yaitu Nepenthes pitopangii dari Sulawesi Tengah, Nepenthes monticola dari Papua Barat, dan Nepenthes diabolica yang juga berasal dari Sulawesi Tengah.
Ia juga menghasilkan hibrida Nepenthes thalita melalui persilangan Nepenthes maxima dan Nepenthes reinwardtiana.
Sementara itu, Enny Widyati menawarkan pendekatan restorasi lahan terdegradasi berbasis mikrobiom tanah yang memadukan aspek biofisik, teknologi, dan sosial.
Salah satu inovasi unggulannya adalah model restorasi produktif 3F (Food, Feed, Fuel), yang mengintegrasikan pemulihan fungsi ekosistem dengan manfaat ekonomi melalui penyediaan pangan, pakan, dan energi.
Di sektor pertanian, I Gusti Komang Dana Arsana memaparkan hasil riset pengelolaan air irigasi pada budidaya padi. Metode tersebut terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus menekan emisi gas rumah kaca, sehingga mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pada bidang pangan fungsional, Andri Frediansyah mengangkat potensi pendekatan metabologenomik dalam fermentasi terkontrol. Metode ini dinilai mampu menghasilkan senyawa bioaktif baru sekaligus meningkatkan nilai fungsional berbagai pangan tradisional Indonesia.
Pendekatan tersebut juga membuka peluang lahirnya produk fermentasi inovatif berbasis sumber daya hayati lokal.
Adapun Cecep Hidayat memperkenalkan teknologi Nano-Zn Phytogenic (NZP), imbuhan pakan unggas berbasis green synthesis yang mengombinasikan mineral seng berukuran nano dengan senyawa bioaktif tanaman.
Teknologi ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi penyerapan nutrien, memperbaiki konversi pakan pada ayam pedaging maupun ayam kampung KUB, memperkuat kesehatan dan imunitas ternak, serta meningkatkan nilai ekonomi usaha peternakan.
Melalui pengukuhan lima profesor riset tersebut, BRIN menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pengembangan ilmu pengetahuan yang tidak hanya menghasilkan temuan akademik, tetapi juga mampu memberikan solusi konkret bagi kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional.