EV-DCI 2026: Kesenjangan Digital Masih Lebar, Talenta AI Jadi Penentu Daya Saing Ekonomi

Oleh : Hariyanto | Rabu, 24 Juni 2026 - 16:07 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta — Transformasi digital Indonesia terus menunjukkan kemajuan dalam tujuh tahun terakhir. Namun, di balik peningkatan tingkat kesiapan digital nasional, kesenjangan antardaerah masih menjadi pekerjaan rumah besar. Laporan East Ventures–Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 mencatat skor daya saing digital Indonesia naik menjadi 42,2 pada tahun ini dari 38,8 pada 2025, menandai tren pertumbuhan yang konsisten sejak 2022.

East Ventures bersama Katadata Insight Center menegaskan bahwa fase berikutnya dari transformasi digital nasional tidak lagi sekadar memperluas akses, tetapi memastikan digitalisasi mampu menghasilkan dampak ekonomi yang nyata melalui peningkatan produktivitas, penguatan kewirausahaan digital, serta penciptaan lapangan kerja yang berkualitas.

Co-Founder dan Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca, mengatakan keunggulan Indonesia terletak pada kemampuan memanfaatkan data dan mengintegrasikannya ke dalam program-program nasional. Menurut dia, penguatan kapabilitas tersebut dapat mengubah infrastruktur digital menjadi manfaat ekonomi yang lebih luas.

“Dengan akses digital yang semakin terdistribusi dengan baik, keunggulan kompetitif Indonesia terletak pada kesediaan kita untuk mendorong efisiensi dalam pengumpulan data, membangun platform yang terintegrasi untuk memproses data tersebut, serta mendistribusikan informasi yang tepercaya. Dengan mengintegrasikan kapabilitas ini ke dalam program nasional, kita dapat mengeksekusi program-program nasional dengan perencanaan dan proses yang lebih lancar, memantau secara real time, serta melakukan iterasi dengan cepat untuk beradaptasi terhadap isu-isu yang muncul dari lapangan. Hal ini akan mengubah infrastruktur digital menjadi dividen digital yang nyata bagi semua,” ujar Willson dalam laporan EV-DCI 2026, Rabu (24/6).

Laporan tersebut mengukur daya saing digital di 38 provinsi dan 157 kota/kabupaten. Selama enam tahun terakhir, DKI Jakarta dan Jawa Barat secara konsisten berada di posisi teratas. Sepuluh provinsi dengan skor tertinggi masih didominasi wilayah Pulau Jawa, diikuti Kalimantan Timur, Bali, Kepulauan Riau dan Sulawesi Selatan.

Meski demikian, pemerataan digital masih belum sepenuhnya tercapai. Sebanyak 37 dari 38 provinsi mencatat kenaikan skor, namun selisih antara provinsi dengan indeks tertinggi dan terendah masih mencapai hampir 60 poin. Kondisi tersebut menunjukkan tingkat kesiapan digital antarwilayah masih timpang.

Papua Barat Daya menjadi daerah dengan lonjakan peringkat paling signifikan setelah naik 15 posisi. Kenaikan tersebut ditopang oleh membaiknya infrastruktur digital, terutama meningkatnya rasio desa yang telah memperoleh sinyal 4G. Di saat yang sama, indikator kewirausahaan dan produktivitas juga menunjukkan perkembangan positif, termasuk meningkatnya pemanfaatan internet untuk aktivitas penjualan melalui media sosial.

Laporan EV-DCI 2026 juga menyoroti bahwa tantangan transformasi digital kini bergeser dari sekadar adopsi teknologi menuju penciptaan nilai ekonomi. Dalam konteks tersebut, ketersediaan talenta digital menjadi faktor yang semakin krusial. Namun, laju pertumbuhan sumber daya manusia digital mulai melandai, sementara perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berlangsung sangat cepat.

Perubahan tersebut menggeser kebutuhan pasar tenaga kerja dari sekadar literasi digital dasar menuju kompetensi yang lebih aplikatif, termasuk kemampuan mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis, produk, dan layanan publik.

Persaingan dengan negara-negara Asia Tenggara dalam membangun talenta AI juga diperkirakan semakin ketat. Dengan kapasitas pusat data yang diproyeksikan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia dinilai perlu memastikan ketersediaan tenaga kerja yang siap AI, tata kelola data yang kuat, serta regulasi yang mendukung inovasi agar investasi infrastruktur digital mampu diterjemahkan menjadi produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan temuan EV-DCI 2026, penguatan daya saing digital Indonesia memerlukan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, swasta, startup, akademisi dan komunitas lokal. Selain itu, pemerataan konektivitas digital, percepatan digitalisasi UMKM, serta peningkatan jumlah dan kualitas talenta digital menjadi faktor kunci agar transformasi digital dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →